Kesan Nonton Jurassic World

Ketika film Jurassic World mulai ramai dibicarakan, saya cuma “hmmmm, okay, jadi Jurassic Park ada sekuelnya lagi. Jadi kira-kira ceritanya bakal menceritakan orang tolol mana lagi yang mau datang ke pulau penuh dinosaurus, setelah di beberapa kesempatan sebelumnya banyak yang ke sana dan pada mati?” Tapi kok makin dekat pemutarannya makin rame dibicarakan yak? (unsure)

Rupanya jarak 22 tahun antara Jurassic Park dan Jurassic World membuat sang dinosaurus kembali dirindukan dan tentu saja rentang waktu 22 tahun itu menyediakan banyak sekali lompatan teknologi yang bakal menyajikan efek visual yang jauh lebih keren. Jadi ya wajar kalau produsernya mencoba peruntungan dengan membuat kembali film dinosaurus legendaris itu. Apalagi memang belakangan ini banyak sekali film-film lawas dibikin kembali.

Nah, saya mau cerita kesan saya tentang film Jurassic World ini. Bagi yang belum nonton, silakan berhenti sampai di sini bacanya karena bakal ada spoiler.

Jurassic World
Gambar nyomot dari Wiki Jurassic World https://en.wikipedia.org/wiki/Jurassic_World

Continue reading “Kesan Nonton Jurassic World”

Review Film Tintin

Peringatan: tulisan ini mengandung spoiler!

Sangat mustahil mengharapkan sebuah film yang diangkat dari buku/komik/novel akan memiliki jalan cerita yang persis plek dengan sumbernya. Malah tak jarang jalan ceritanya bisa melenceng sangat jauh.

Film The Adventure of Tintin pun demikian. Walau berbasis pada komik Rahasia Kapal Unicorn (The Secret of the Unicorn) dan Harta Karun Rackham Merah (Red Rackham’s Treasure), namun hanya inti cerita saja yang bisa dibilang sama. Banyak detil yang meleset jauh dari komiknya. Bahkan sebagian jalan cerita mengadopsi komik Kepiting Bercapit Emas (The Crab with the Golden Claws).

Tapi tak apalah, yang penting tidak “merusak impian” penggemarnya dengan menghadirkan tokoh utama yang seharusnya baik menjadi jahat seperti Jim di film Mission Impossible atau Scrappy Doo di film Scooby Doo. OK, memang tokoh Sakharine yang di komik adalah orang baik dijadikan jahat di film tetapi Shakarine bukanlah tokoh utama yang memiliki “ikatan bathin” dengan fans Tintin.

Continue reading “Review Film Tintin”

Hachiko

Sudah lama saya tidak nonton film di bioskop. Jauhnya jarak rumah ke XXI dan Studio 21 di Amplaz bikin males. Nah, kemarin saya nonton untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan tidak nonton, saya nonton Hachiko.

Sebenarnya film drama bukanlah genre yang saya suka. Namun karena anak saya yang kepingin, ya sudah, saya antar mereka nonton.

Karena begitu terkenalnya cerita Hachiko, jalan cerita bukan lagi menjadi fokus utama. Dan seperti yang sudah saya duga, film ini boring sebenarnya. Konflik nyaris tidak ada, endingnya juga bisa ditebak dengan mudah.

Namun tetap ada nilai yang bisa dipetik. Soal kesetiaan. Sesuatu yang sudah relatif langka dijumpai di jaman seperti ini.

Continue reading “Hachiko”

G.I. Joe: The Rise Of Cobra

Tulisan ini Halal, tidak mengandung spoiler! :p

Jujur saja saya bukanlah penggemar G.I. Joe. Baca komiknya saja belum pernah! (taser) Saya kepingin nonton filmnya karena melihat trailernya.

Karena belum baca komiknya sama sekali, jadi saya tidak bisa mengatakan apakah adaptasi film ini terhadap komiknya berhasil atau tidak. Barangkali tulisan Pitra bisa membantu. (Waspadalah karena tulisan Pitra banyak spoilernya) (taser)

Dari segi jalan cerita, alurnya cukup mudah dipahami. Pendalaman terhadap karakter tokoh dilakukan dengan model flashback. Pendalaman watak dan karakter tokoh-tokoh dalam film ini berhasil dengan baik, saya yang belum pernah baca komiknya pun serasa jadi “kenal baik” dengan para tokoh itu.

Konflik yang diangkat dalam film ini juga lumayan dan ada cukup banyak kejutan-kejutan. Endingnya juga relatif tidak mengikuti pola umum film action hero, walaupun saya bisa menebaknya. B-) Biasa, nanti pasti ada penjelasan di sequelnya.

Karena sama-sama mengandalkan special effect sebagai jualan, boleh dong kalau film ini saya bandingkan dengan Transformer 2. Buat saya, G.I. Joe lebih bagus daripada Transformer 2. Alur cerita barangkali hampir sama datarnya sekaligus special effect yang setara ciamiknya, namun G.I. Joe lebih berhasil membangun konflik dan karakter tokoh-tokohnya.

Setidaknya saya sepakat dengan Choro soal ini. Etapi awas, tulisan Choro juga banyak spoilernya. (idiot)

Cuma sayangnya penonton yang bareng-bareng saya nonton film ini nampaknya kurang memiliki sense of humor karena beberapa dialog lucu tidak juga berhasil memancing tawa mereka. Saya jadi gak enak mau ketawa sendiri. (doh)

Ice Age 3: Dawn of The Dinosaur

Anda aman untuk terus membaca tulisan ini karena tidak ada spoiler di sini. Bagaimanapun toh formula film kartun seperti ini sama saja dari masa ke masa, sarat dengan nilai cinta, kepercayaan, dan persahabatan.   (girlkiss) (cozy) (heartbeat)

Yang jelas, unsur kejutan di film ini lebih banyak dibandingkan dengan Ice Age 1 dan 2. Dan soal mengocok perut, saya sarankan jangan terlalu lapar atau terlalu kenyang saat nonton film ini, karena dijamin perut Anda akan “berantakan” akibat terlalu sering tertawa.   (lmao) (rofl)

Soal timeline yang gak cocok dengan bukti sejarah (bagaimana mungkin dinosaurus masih hidup di zaman es?), ah … tak usahlah dirisaukan. Ingat, ini film kartun, binatang saja bisa bicara, apa lagi yang bisa diharapkan?  (hassle)

Nah, kalau Anda termasuk yang kecewa dengan Transformers 2, nampaknya film ini bisa dijadikan obat penawar hati yang remuk. *halah*  (idiot)

Watchmen

Setelah sekian lama saya tidak menyalurkan hobi saya yang satu ini (bahkan saya sampai lupa film terakhir yang saya tonton), akhirnya saya kesampaian juga nonton lagi. Juga kesampaian “mencicipi” XXI Jogja. Dan film yang saya pilih adalah Watchmen.

Walaupun bertema superhero, Watchmen jelas bukan konsumsi anak-anak. Amat sangat disayangkan ketika saya nonton, ada beberapa orang anak yang juga nonton. (doh) Hai para orang tua, cari info dulu dong sebelum mengajak anak-anaknya nonton sebuah film. Di situs 21 Cineplex jelas-jelas tertulis kalau fim Watchmen adalah film untuk dewasa. Buat pengelola XXI, mestinya juga berani tegas untuk menolak anak-anak masuk ke dalam teater yang memutar film dewasa.

Mengapa Watchmen bukan konsumsi anak-anak? Berikut sedikit review dari saya. Bagi yang belum nonton tapi sudah kebelet nonton, sebaiknya sih jangan membaca lanjutan tulisan ini walaupun saya berusaha untuk tidak membocorkan jalan cerita. (evilsmirk)

Continue reading “Watchmen”

Romantisme

Quantum of Solace, film terbaru James Bond telah beredar. Dengan masih diperankan oleh Daniel Craig, penilaian terhadap film James Bond tersebut lagi-lagi terpecah menjadi dua kubu.

Penggemar James Bond sejati rata-rata tidak menyukai Daniel Craig, bahkan sampai ada kelompok yang memboikot film-film James Bond. Di pihak lain, ada yang mengatakan bahwa Bond versi baru ini jauh lebih segar, lebih manusiawi, dan lebih dekat pada karakter seorang agen rahasia.

Continue reading “Romantisme”