Review Film Gundala – Film Gundala saat ini sedang diputar di berbagai jaringan bioskop di Indonesia. Adakah yang belum kenal dengan Gundala? Gundala adalah superhero asli Indonesia (kelahiran Jogja, wkwkwk).

Jika melihat sosoknya, mungkin sebagian langsung menuduh bahwa Gundala ini meniru karakter Flash. OK, Hasmi (penulisnya) sendiri mengakui terinspirasi dari Flash, tapi jika dikatakan meniru, kok ya terlalu berlebihan. Ada banyak perbedaan loh antara Flash dengan Gundala.

Saya cukup beruntung sudah mengenal Gundala sejak kecil karena dulu orangtua saya sempat memiliki usaha penyewaan komik. Sayang sekali saat itu saya kurang begitu tertarik dengan komik Gundala karena gebyar komik Eropa yang berwarna lebih menarik minat saya. Jadi saya lebih akrab dengan Tintin, Asterix, Lucky Luke, dan kawan-kawannya.

Praktis, saya hanya kenal sedikit tokoh yang diceritakan di dalam komik Gundala, misalnya Godam, Aquanus, dan Kapten Mlaar. Sifat dan karakter merekapun saya sudah lupa sama sekali. Saya hanya ingat samar-samar bahwa Gundala itu “beroperasi” di kota Yogyakarta. Salah satu makanan favoritnya adalah gudeg Bu Mus. Konon, rumah Hasmi memang tidak terlalu jauh dari gudeg Bu Mus.

Tahun 1980an, Gundala pernah diangkat ke layar lebar, dengan judul Gundala Putra Petir. Saya waktu itu sebenarnya ingin nonton tetapi karena satu dan lain hal, saya tidak jadi nonton. (Satu dan lain hal adalah kalimat untuk pengganti kata “lupa”, wkwkwk). Apalagi waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ketika mengetahui Gundala akan difilmkan kembali, saya bertekad untuk tidak gagal nonton lagi. Kali ini saya kudu nonton.

Akhirnya saya beneran nonton dan sekarang saya hendak mempersembahkan review film Gundala tersebut. Dalam review ini bakal terdapat spoiler, jadi jika kamu tidak suka kena spoiler, boleh kok berhenti baca sampai di sini. Boleh baca tulisan saya yang lain, hehe.

Lower Your Expectations

Lower your expectations, be patient. Dua kalimat itu selalu saya katakan dalam hati saat hendak berangkat nonton Gundala. Maklum, kita baru saja disuguhi oleh hebohnya film superhero sekelas Avenger dan Spiderman.

Bukan berarti saya merendahkan kualitas film nasional ya. Tidak sama sekali! Saya malah mengapresiasi peningkatan kualitas film-film Indonesia belakangan ini.

Hanya saja, kita kudu sadar bahwa film-film Avenger tersebut dibuat oleh studio sekelas Disney yang sangat disegani di Hollywood, plus kucuran dana yang bisa dibilang tak terbatas. Film superhero dari DC aja keteteran melawan film Marvel, ya kan?

Jadi kalau kamu mematok harapan terlalu tinggi saat nonton Gundala, percayalah, kamu bakalan kecewa.

Nah, karena saya sudah “memprogram” kedua kalimat tersebut ke dalam pikiran saya, maka saya jadi lebih bisa menikmati film Gundala.

Masa Kecil Sancaka

Film diawali dengan menceritakan masa kecil Gundala, yang nama aslinya adalah Sancaka. Kehidupan masa kecilnya keras. Bapaknya hanyalah seorang buruh pabrik dan itupun tukang demo, meskipun membela kepentingan sesama buruh terhadap pemilik pabrik yang zalim.

Sancaka kecil ini punya talenta unik, yaitu diikuti petir ke manapun dia pergi. Bahkan pada satu kesempatan, dia tersambar petir padahal di sekitarnya ada banyak orang, badannya lebih tinggi pula.

Masa kecil Sancaka ini diceritakan cukup panjang, menurut saya terlalu panjang. Mungkin ingin menggambarkan trauma tertentu yang dimilikinya dan mungkin nanti bakal berpengaruh saat dia muncul di film JSB (Jagat Sinema Bumilangit) selanjutnya.

Cuma menurut saya, panjangnya penggambaran masa kecil Sancaka ini berakibat pada kurang dalamnya penggalian karakter Sancaka ketika dia sudah beranjak dewasa.

Sancaka Dewasa

Ketika dewasa, Sancaka bekerja sebagai seorang security di sebuah perusahaan. Nasibnya belum begitu beranjak jauh dari masa kecilnya, masih seorang pekerja miskin yang ngekos di kamar berukuran kecil dan seadanya.

Berhubung tinggal di daerah kumuh, perkelahian dan kejahatan menjadi menu tontonan Sancaka sehari-hari. Pengalaman buruknya di masa kecil membuatnya lebih sering mengabaikan kejahatan-kejahatan tersebut.

Situasi berubah ketika dia menolong Wulan, tetangga kamar kosnya. Mulailah dia terlibat dalam beberapa perkelahian dan situasi rumit.

Namun Sancaka masih belum tahu betul potensi dirinya yang doyan tersambar petir itu. Pernah dalam sebuah perkelahian, tangannya tak sengaja mengeluarkan petir (listrik) tetapi dia tidak bisa mengulanginya. Akhirnya di film diceritakan mengalir begitu saja, tahu-tahu Sancaka tahu bila kekuatannya didapat saat dia tersambar petir.

Menurut saya, bagian ini harusnya yang dieksplor lebih banyak. Jadi bakal kelihatan betul pergumulan Sancaka yang akhirnya menyadari bahwa dia memiliki kemampuan super saat tersambar petir, sampai akhirnya tahu bahwa bukan petir yang membuatnya kuat, tapi memang potensi dari dalam dirinya. Mau diapakan kemampuan itu, seberapa besar kekuatannya, bagaimana mengendalikannya, dan lain-lain.

Awal mula Sancaka bisa menjadi Gundala juga berbeda dengan versi komik. Di komiknya, ada sosok alien yang berperan besar dalam mengubah Sancaka menjadi Gundala. Di filmnya, tidak ada alien.

Tokoh Antagonis

Tokoh antagonis dalam film ini adalah Pengkor dan Ghazul (Ghani Zulham). Asal-usul Pengkor diceritakan dengan singkat tapi cukup jelas. Sementara siapa itu Ghazul, masih belum jelas. Bagaimana mereka berdua bisa bekerja sama, juga masih belum jelas.

Di akhir film juga ada kemunculan spektakuler tokoh antagonis Ki Wilawuk yang bisa hidup lagi berkat setetes darah Gundala. *tepok jidat

Di film tidak dijelaskan bagaimana darah Gundala itu bisa dipakai menghidupkan tokoh antagonis yang seram ini. Menurut saya ini juga harusnya digali lebih dalam di film. Bisa jadi keterbatasan durasi jadi penyebab. Kalau ada sekuelnya, mudah-mudahan bisa lebih dieksplor lagi soal ini.

Suasana Kelam

Dalam film Gundala, sutradara Joko Anwar memilih untuk menghadirkan suasana kelam, mirip seperti The Dark Knight.

Kota Jakarta dipilih sebagai setting film tetapi ya itu, lebih banyak ditonjolkan sisi kelamnya, bahkan pada adegan siang hari sekalipun. Gedung wakil rakyat juga digambarkan kelam.

Pendekatan seperti ini tidak masalah, toh nyatanya The Dark Knight diakui sebagai salah satu film superhero terbaik.

Penonjolan sisi kelam ini justru menjadi ajang unjuk kemampuan seorang Joko Anwar karena berhasil menampilkan sisi kelam dengan apik. Sinematografi film Gundala keren pokoknya.

Harapan saya, film-film JSB lainnya nanti tidak mengambil gaya kelam semuanya. Semoga ada yang kocak seperti Ant-Man misalnya. Eh tapi porsi adegan lucu di film Gundala ini juga lumayan loh.

Kalau kelam, mengapa kostum Gundala berwarna merah, tidak hitam seperti di komiknya? Nah, kalau ini, nonton sendiri aja ya biar tahu, hehehe.

Kesimpulan

Nah, inilah review film Gundala dari saya. Lepas dari beberapa kekurangan yang saya tuliskan di atas, secara keseluruhan saya menilai film ini keren. Keren sekali.

Saya saja sudah lama tidak menulis review film, ini bela-belain nulis review film Gundala, wkwkwk.

Film superhero pertama yang mengawali JSB tentu memiliki tekanan yang cukup berat dan saya pikir Gundala bisa lepas dari tekanan tersebut dan berpotensi sangat besar menjadi lokomotif bagi film-film superhero yang lain.

Nampaknya bakal banyak yang setuju dengan saya jika Gundala keren karena di akhir film, penonton bertepuk tangan. Oh iya, jangan buru-buru pulang ya sebelum film benar-benar selesai, hehe.

Selamat datang Jagat Sinema Bumilangit, saya menantikan film-filmmu yang lain.

Follow me on social media:
Review Film Gundala
Tagged on:             

9 thoughts on “Review Film Gundala

  • 04/09/2019 at 1:03 pm
    Permalink

    Gundala sangat bagus filmnya menurut aku om hanya saja bingung beberapa nitijen bilang film ini tidak pantas ditonton oleh anak anak kecil gitu padahal genrenya superhero

    Reply
    • 04/09/2019 at 1:52 pm
      Permalink

      Ada adegan anak kecil menggorok leher yang lolos sensor. Itu yang bikin film ini kurang ramah anak.

      Reply
    • 04/09/2019 at 2:30 pm
      Permalink

      Ya betul, tidak semua film bergenre superhero ramah anak

      Reply
  • 04/09/2019 at 1:04 pm
    Permalink

    Sepertinya jalan ceritanya terlalu kelam ya om buat anak kecil? Ini ratingnya untuk usia berapa?

    Reply
    • 04/09/2019 at 1:50 pm
      Permalink

      Soal darah kan Ghazul sudah bilang, Mas. Kalau untuk membuka segel Ki Wilawuk itu dibutuhkan setetes darah pahlawan. Menurutku itu udah menjelaskan banyak hal.

      Reply
      • 04/09/2019 at 2:32 pm
        Permalink

        Mengapa harus setetes darah pahlawan? Mengapa tidak misalnya sepotong rambut pahlawan? Maksud saya lebih ke situ, dijelaskan asal muasalnya dan usaha mereka memburu darah pahlawan itu.

        Reply
    • 04/09/2019 at 2:30 pm
      Permalink

      13 tahun ke atas kalau saya tidak salah

      Reply
  • 04/09/2019 at 1:15 pm
    Permalink

    Mas JokAn memang sepertinya terinspirasi dari Batman versi Nolan Om.. selain itu, kemunculan Ki Wilawuk itu karena beliau memiliki aji Rawa Rontek yang.. begitulah.. dan darah Gundala menjadi katalisator dalam menghidupkan kembali, syukur-syukur jadi makin sakti..

    Reply
  • 19/09/2019 at 7:16 am
    Permalink

    Ya, Om. Belum dijelaskan resep dan takaran untuk memecahkan es yang mengurung kepala Sujiwo Tejo. Yang saya tangkap di film, cuma ada 2 resep. Pertama, darah Gundala. Kedua, kekuatan petir Gundala yang didapat dari usaha Gundala memecahkan botol serum amoral, yang memiliki frekuensi sama dengan botol yang mengurung kepala si kakek tua itu.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.