Secara Gitu Loh

Seandainya Anda sedang menghadapi ulangan atau ujian Bahasa Indonesia dan menghadapi soal berikut, apa jawaban Anda?

Pilih kata penghubung yang tepat untuk kalimat berikut:

“Saya tidak suka berada di lantai atas gedung bertingkat, … saya takut ketinggian.”

a. di mana

b. karena

c. secara

d. maka

Saya yakin, seyakin-yakinnya, Anda akan memilih jawaban b. Anak SD juga tahu.

Namun pada kenyataannya, sekarang ini lebih banyak orang yang menggunakan jawaban c daripada jawaban b untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, baik dalam bahasa lisan maupun dalam tulisan. Banyak blogger yang juga menggunakan kata “secara” secara tidak tepat (kalau kata secara yang saya gunakan itu betul, khan? :p)

Continue reading “Secara Gitu Loh”

Oooh … Chincha Lawra

Heran, blogosphere kok tiba-tiba dipenuhi dengan pembicaraan mengenai Chincha Lawra Cinta Laura. Kalo ndak percaya, coba buka ini, ini, dan ini. Ternyata penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah si Monyet Pinter yang menciptakan generator untuk dapat menirukan logat Cinta Laura. Yeah, Chincha memang unik, sampai-sampai CahAndong berhasil menyusun database komenchar Chincha.

Continue reading “Oooh … Chincha Lawra”

Mengokot?

Hmm, mengokot? Saya yakin Anda pasti bingung dengan istilah tersebut. Ternyata mengokot adalah kata baku dalam Bahasa Indonesia untuk stapling. Sedangkan alat untuk mengokot adalah pengokot, yang tidak lain dan tidak bukan adalah stapler.

Kalo stapler tentunya tahu khan? Walaupun mungkin dengan berbagai istilah seperti cekrekan, jeglekan, steples, de el el.

stapler.jpg

Selamat Ulang Tahun, Endonesa

Lhoh, kok nulisnya gitu??? Bentar, buat yang berjiwa nasionalis, jangan ngamuk dulu yach.

Itu bukan salah ketik … dan bukan juga lagi ngantuk … tapi itu realitas. Coba deh, nyalakan TV, nyalakan radio, atau kalo gak punya kedua-duanya, just ngobrol dengan tetangga dan ngomongin soal negara kita ini, soal apa saja. Perhatikan dengan seksama, bagaimana lafal mereka saat menyebut nama negara kita tercinta ini. “Endonesha”, khan?

Heran, deh. Tahun ini sudah 62 tahun bangsa kita merdeka, tapi menyebut nama negaranya sendiri masih keseleo begitu. Padahal, kalau melafalkan Indosiar, Indomie, Indofood, Indologistik, Indo-apa-lagi, huruf I nya betul-betul berbunyi I, bukan E.

Ketika ribut-ribut soal ditemukannya lagu Endonesa Indonesia Raya oleh seseorang yang ngakunya pakar telematika, saya mencoba mencari rekaman lagu itu yang katanya ada di YouTube. Saya penasaran, gimana cara para sesepuh kita melafalkan Indonesia. Eeeh, ternyata sami mawon, padha wae, setali tiga uang. Kata Indonesia-nya dilafalkan dengan Endonesa juga.

Lha kalo sejak merdeka saja udah begitu, susah juga untuk mengajak generasi sekarang mengucapkannya dengan lafal yang benar.

Ya sudah lah, pokoknya negara kita ini sudah “merdeka”. MERDEKAAA!!!

Nol = Kosong ?

Sudah agak lama saya terganggu dengan penyebutan “kosong” untuk menggantikan angka nol. “Kosong delapan kosong sembilan …” begitu bunyi iklan T*lk*mn*t I*****t. Kalo ada kuis, presenternya bilang: “Ayo silakan telpon ke kosong dua satu …”.

Apakah itu benar??? Saya udah nyoba ubek-ubek Wikipedia, tapi nampaknya informasi mengenai hal itu belum ada. Saya cuma mencoba mengingat-ingat pelajaran matematika SD dulu. Ada bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, dan bilangan kosong. Nah, yang disebut terakhir ini betul-betul sesuatu yang kosong, bahkan angka 0 pun tidak ada di dalamnya.

Dalam Bahasa Inggris, nol = zero dan kosong = nil/null/empty (CMIIW). Di dunia komputer, 0 dan kosong (NULL) juga berbeda. Jadi kelihatannya ini adalah salah satu kesalahkaprahan yang cukup parah dalam Bahasa Indonesia, seperti halnya posting saya sebelumnya, mengapa C dibaca K.

Saya sendiri mencoba membiasakan diri untuk membaca 0 dengan nol, bukan kosong, terutama saat menyebutkan nomor telpon/HP. “Anda bisa menghubungi saya di nol delapan satu tiga …”.

BTW, setidaknya ada dua blog lain yang pernah menyinggung hal ini: belalang dan my-inspirational-life.

Mengapa C dibaca K?

Saya yakin kita semua sudah tahu arti kata “pasca”. Ya, artinya kira-kira “sesudah”. Cuma yang bikin saya agak heran, hampir semua orang akan melafalkan pasca dengan paska. Apakah itu benar?

Saya memang bukan ahli bahasa (meskipun saya seorang penulis, hehe), tetapi jelas bahwa dalam Bahasa Indonesia, tidak ada aturan yang menyebutkan huruf C bisa dibaca K. Benar bahwa pasca bukan asli berasal dari Bahasa Indonesia, tetapi pasca juga bukan berasal dari Bahasa Inggris atau salah satu bahasa eropa lain yang “mengijinkan” C dibaca dengan K. Bisa jadi itu karena pengaruh suatu kata (nama) dalam salah satu bahasa eropa yang mirip dengan pasca, yaitu Pascal yang memang dibaca dengan paskal.

Jadi mestinya pasca tetap dibaca dengan huruf C, bukan K.

Celakanya (bukan dibaca kelakanya, bukan?), banyak pihak yang dianggap sebagai panutan dalam berbahasa Indonesia malah justru makin “memperuncing keadaan”, sebut saja pembaca berita di televisi, presenter, bahkan para pejabat negara.

So, marilah mulai kita biasakan dari diri kita, bacalah pasca dengan huruf C, bukan K. Sebab bila tidak, bisa-bisa akan muncul kalimat-kalimat yang aneh-aneh seperti “aku menkuki bajuku hingga kemerlang”, “dia membaka buku kerita dongeng tentang seekor kikak”, “Ayah suka memanking ikan dengan umpan seekor kaking”, he..he..he…