Tulisan ini mestinya diunggah dua hari lalu, bertepatan dengan Imlek, namun karena kesibukan, baru hari ini saya sempat menulisnya. Kenapa mesti Imlek? Ndak ada alasan khusus sih. Hanya memang biasanya momen-momen tertentu digunakan untuk mengenang orang-orang dekat yang telah pergi.
Papi, demikian beliau mengajar saya memanggilnya, memang telah dipanggil pulang ke rumah Bapa pada 1 November 2009, setelah 15 tahun bergulat dengan stroke yang dideritanya. Imlek kemarin kami datang ke makam untuk mengenang sosoknya dan membersihkan makamnya.
Papi adalah seorang pekerja keras dan memiliki bakat kental seorang marketing. Apa saja yang ada di tangannya bisa jadi barang dagangan. Ketika saya masih kecil, pekerjaan Papi adalah berdagang kalkulator dan mesin ketik. Papi kulakan berbagai “gadget” itu dari Jakarta dan dijual di daerah.
Ketahuanlah dari mana datangnya bakat saya ngoprek gadget
) Bagaimana tidak, keberangkatan pesawat saya ditunda sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, mengingat terjadi hujan abu di Jogja.