Dulu ketika pertama kalinya punya ponsel, saya cukup pusing memilih operator. Maklum saat itu harga kartu perdana bisa hampir semahal harga ponselnya. Jadi saya memutuskan untuk membeli yang paling murah saja. Tapi tak berapa lama keputusan itu berbuah penyesalan, terutama semenjak sering dipanggil menjadi pembicara di berbagai daerah sebagai efek samping profesi saya sebagai penulis buku.
Saat menjadi pembicara di salah satu daerah agak timur Indonesia, ponsel saya nyaris gak dapat sinyal. Saya cuma bisa melongo saat teman yang kebetulan sama-sama jadi pembicara bisa bertelpon ria dengan keluarganya.
Ketika beberapa waktu kemudian saya hendak pergi ke daerah agak “terpencil” lagi, saya memutuskan untuk segera ganti operator. Ya, sebagian pasti sudah tahu kalo saya sekarang menggunakan Telkomsel. Memang dari sisi tarif penggunaan sedikit lebih mahal tapi itu terbayar dengan kepuasan dan koneksi yang selalu tersedia meski pergi ke daerah.
Itu cerita beberapa tahun lalu, saat ponsel benar-benar hanya berfungsi sebagai alat komunikasi bicara dan SMS saja.
Operasinya juga sekarang berlindung di balik badan usaha, yaitu