Akhir-akhir ini istilah yang menjadi judul posting ini relatif sering terdengar. Entah apa maksud sebenarnya dari kata-kata itu tetapi saya tidak setuju. Melupakan itu mestinya bagian dari memaafkan. Kalau masih mengingat-ingat, sakit hati itu berarti masih ada.
Lalu muncul pula ungkapan seolah-olah membenarkan hal itu. Kalau kayu dipaku dan pakunya dicabut, lubang bekas pakunya tetap tidak hilang. Hati yang terluka digambarkan bagai dipaku. Dan ketika permintaan maaf terucap dan maaf diberikan, paku itu dicabut. Tapi bekasnya masih tetap ada.
