Kalimat yang jadi judul posting ini sedang menghangat di Yogyakarta. Ndak perlu dijelaskan panjang lebar, semua juga tahu kalau ini adalah akibat dari kisruhnya pembahasan RUU Keistimewaan Yogyakarta. Tambah lagi pernyataan Presiden SBY soal Monarki yang bagai menuang minyak tanah ke atas bara.
Saya tidak akan membahas pro kontra RUU Keistimewaan itu maupun kata-kata Monarki yang meluncur dari mulut seorang Presiden. Teman saya Herman Saksono lebih pantas. Saya cuma mau membayangkan, andaikata misalnya umpama Yogyakarta kemudian memisahkan diri dari Indonesia gara-gara polemik tersebut, apa yang bakal terjadi?
Mungkin inilah kiraΒ² yang bakal terjadi.
- Yogyakarta bakal ganti nama jadi kerajaan Ngayogjakarta.
- Ngayogjakarta bakal punya mata uang sendiri, yaitu Kethip, dengan kurs 1 Kethip = Rp 10.000,- sekaligus sebagai solusi redenominasi mata uang negeri tetangga.
- Ngayogjakarta bakal punya Airlines sendiri dan semua penerbangan menuju ke luar negeri. Pramugarinya barangkali kembenan semua. (lmao)
- Tidak ada lagi bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), adanya AKAN (Antar Kota Antar Negara).
- Banyak warga Ngayogjakarta (termasuk saya) yang bakal sering melancong ke luar negeri, misalnya ke Klaten, Muntilan, dan Purworejo. Kelemahannya, harus bikin paspor dulu.
- Tidak perlu mencelupkan jari ke dalam tinta setiap 5 tahun sekali.
- Untuk menangkap siaran RCTI, SCTV, Indosiar, TVOne, ANTV, Trans TV, Trans 7, MNC TV, Global TV harus pakai parabola dengan potensi diacak untuk siaran-siaran tertentu.
- Tidak bakal ada biaya roaming dari operator seluler untuk menelpon ke propinsi yang berbeda, sebagai gantinya adalah biaya SLI.
- Bakal ada nama domain .co.yk
- Pesta Blogger Nasional akan berlangsung bukan cuma setahun sekali, tapi setiap hari Jumat bersamaan dengan Juminten.
Ada yang mau nambah? Silakan komentar di sini.
NB: Ilustrasi diambil dari gambar-gambar yang bertebaran di internet. Gambar pesawat dibuat oleh Alex Pra, seorang desainer.
Follow me on social media:


Leave a Reply