Akhir-akhir ini istilah yang menjadi judul posting ini relatif sering terdengar. Entah apa maksud sebenarnya dari kata-kata itu tetapi saya tidak setuju. Melupakan itu mestinya bagian dari memaafkan. Kalau masih mengingat-ingat, sakit hati itu berarti masih ada.
Lalu muncul pula ungkapan seolah-olah membenarkan hal itu. Kalau kayu dipaku dan pakunya dicabut, lubang bekas pakunya tetap tidak hilang. Hati yang terluka digambarkan bagai dipaku. Dan ketika permintaan maaf terucap dan maaf diberikan, paku itu dicabut. Tapi bekasnya masih tetap ada.
Lebih daripada 2000 tahun yang lalu, Yesus bangkit sebagai paskah pertama di era Perjanjian Baru. Dengan kuasa-Nya, dia mampu mengalahkan kematian dan bangkit kembali. Dia mampu meraih kembali kehidupannya, tetapi mengapa Dia meninggalkan lubang bekas paku itu tetap “menghiasi” tangan-Nya? (Yohanes 20:27)
Yesus sepertinya menyadari bahwa kelak di masa depan setelah kenaikan-Nya ke surga, lubang bekas paku akan dijadikan perumpamaan sebagai pembenaran untuk memaafkan tapi tidak melupakan.
Kita yang sudah ditebus dan ambil bagian dalam kebangkitan Yesus, mestinya sudah tidak lagi memiliki lubang bekas paku itu karena sudah dibawa-Nya pulang ke surga. Jadi tidak ada lagi alasan untuk memaafkan tapi tidak melupakan, melainkan memaafkan dengan tulus ikhlas dan melupakan segala sakit hati yang telah ada.
Justru karena lubang bekas paku itu ada di tangan Yesus, maka setiap kali dia memandang tangan-Nya, Dia tidak akan lupa bahwa Dia telah memaafkan semua dosa kita. Frase itu kini berubah menjadi “Tidak melupakan bahwa telah memaafkan”.
Selamat Paskah, Tuhan memberkati.
Follow me on social media:
Leave a Reply