Berawal dari kegelisahan akan rendahnya literasi masyarakat Indonesia yang berakibat mudahnya hoax menyebar, MAARIF Institute, Mafindo, Love Frankie, dan didukung oleh Google.org, menginisiasi berdirinya Tular Nalar.

Fakta berbicara bahwa penetrasi internet meningkat cukup pesat di Indonesia dan ini mendorong konsumsi media sosial yang tinggi, sayangnya tidak diimbangi dengan tingkat literasi media di kalangan masyarakat, yang notabene masih relatif rendah.

Menilik fakta ini, sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki keterampilan yang tepat guna memahami serta menyaring apa yang mereka konsumsi secara daring, entah itu artikel berita, atau berbagai informasi pribadi lainnya.

Apalagi pada masa pandemi ini, dunia digital juga dipenuhi dengan misinformasi dan disinformasi yang berkaitan dengan dunia kesehatan, pandemi, bahkan pandangan-pandangan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan cenderung menyesatkan.

Ini bisa menyulitkan usaha untuk memutus mata rantai penularan dan bisa berakibat pandemi berkepanjangan.

Harapannya, dengan meningkatnya literasi ini, berbagai misinformasi yang beredar bisa dipatahkan.

peluncuran tular nalar

Tular Nalar, dengan slogan Bukan Sekadar Paham, menyediakan kurikulum pembelajaran daring dengan tujuan meningkatkan literasi dan kemampuan berpikir kritis sehingga masyarakat terhindar dari hoax, berita palsu, ujaran kebencian, dan intoleransi.

Sejak pertengahan tahun 2020 lalu, program ini akan melatih 26.700 guru, dosen, dan guru honorer di 23 kota di Indonesia tentang cara mengidentifikasi bahwa sebuah berita ternyata berisi misinformasi dan cara memeranginya.

Di samping itu, para pendidik tersebut juga dibekali dengan keterampilan literasi media yang relevan.

Demi menjangkau lebih banyak pihak, Konsorsium Tular Nalar juga meluncurkan situs tularnalar.id. Dengan bentuk sebuah situs di internet, maka siapapun bakal bisa mengaksesnya.

Sekarang bukan hanya civitas akademika saja, tetapi publik lebih luas dapat belajar bersama-sama untuk melawan misinformasi.

Peluncuran Tular Nalar dilakukan dengan cara yang menarik, menggunakan konsep Dunia Virtual Reality Tular Nalar yang menyajikan tema galeri seni karya anak bangsa agar dapat mengedukasi publik dengan menyajikan pengalaman visual dengan lebih imersif dan menarik, hingga misi Bukan Sekadar Paham dapat tercapai.

Berikut ini adalah sambutan dari wakil-wakil berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan Tular Nalar.

Samuel A. Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia memberikan apresiasi positif dengan kehadiran situs tularnalar.id ini. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang terus berjuang bersama pemerintah dalam menanggulangi misinformasi dan disinformasi.

Beliau berkata, “sebagaimana data yang ada, sejak bulan Januari tahun 2020 hingga bulan Januari 2021, ada kurang lebih 1500 hoax mengenai COVID-19, bisa dibayangkan berapa banyak kerugian dan kekacauan yang terjadi di masyarakat yang mungkin termakan oleh hoax.

Oleh karena itu, kami mendukung dengan adanya platform tularnalar.id yang diprakarsai oleh MAARIF Institute, MAFINDO, Love Frankie, dan didukung oleh Google.org ini. Semoga platform pembelajaran yang bertujuan sebagai sarana edukasi dalam pembekalan keterampilan berfikir kritis ini dapat menciptakan masyarakat yang Tahu, Tanggal dan Tangguh terhadap Hoax.”

Senada dengan itu, Ryan Rahardjo, Head of Public Affairs Southeast Asia, Google menambahkan, “Hibah Google.org yang kami berikan untuk MAARIF Institute bekerjasama dengan MAFINDO adalah upaya berkelanjutan kami untuk mendukung organisasi-organisasi yang membantu masyarakat Indonesia dalam melawan misinformasi dan disinformasi khususnya terkait vaksin COVID-19.

Memerangi misinformasi dan disinformasi daring terus menjadi tantangan penting dan prioritas utama bagi Google. Kami berharap peluncuran situs Tular Nalar ini dapat membantu mengasah cara berpikir kritis masyarakat agar terhindar dari misinformasi dan disinformasi terutama terkait COVID-19.”

Khelmy K Pribadi, Direktur Program MAARIF Institute menandaskan, “kehadiran situs tularnalar.id adalah bentuk komitmen seluruh konsorsium untuk memperluas akses publik pada sumber pembelajaran daring yang dapat meningkatkan keterampilan praktis dosen, guru, siswa dan siapapun untuk bersama-sama meningkatkan kapasitas literasi digital untuk melawan misinformasi, disinformasi dan ujaran kebencian.

Situs tularnalar.id menyediakan materi pembelajaran yang kreatif dan interaktif, termasuk di dalamnya adalah modul, video, dan kuis-kuis menarik dengan sumber rujukan yang jelas.”

Sementara itu, Juli Binu dari Love Frankie, menyampaikan bahwa dalam proses penyusunan situs tularnalar.id, konsorsium sebelumnya telah melakukan riset kepada para pakar di bidang literasi media untuk dapat memahami tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pengajar dalam mengajarkan literasi media kepada siswanya, dan juga menguji berbagai model kursus online untuk menghasilkan situs yang ramah bagi penggunanya termasuk teman teman disabilitas.

Hal yang serupa disampaikan oleh Yulita Priyoningsih, Sub Koordinator Pembelajaran Khusus, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud RI. Beliau menyampaikan, “program Tular Nalar yang digagas oleh MAARIF Institute merupakan contoh baik tentang implementasi kolaborasi antara Kemdikbud dan masyarakat, dalam rangka meningkatkan literasi media, khususnya media digital untuk mendorong kesadaran akan pentingnya pencegahan penyebarluasan berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Penguatan literasi media bagi dosen-dosen, mahasiswa dan masyarakat luas menjadi salah satu perwujudan tridharma perguruan tinggi.

Materi-materi yang disajikan pada laman tularnalar.id sangat baik dalam memberikan pembelajaran kepada masyarakat luas tentang literasi media, komposisi dan fitur-fitur materi menarik yang akan mendorong masyakat untuk lebih memahami makna dari literasi media.

Di masa mendatang, diharapkan cakupan penerima manfaat dari kolaborasi antara Kemendikbud dan MAARIF Institute dapat dapat diperluas dari sisi jenjang akademik.

Digitalisasi materi-materi yang telah disusun oleh tim Tular Nalar, ke depan diharapkan akan dapat memperkaya repositori materi terbuka pada laman spada.kemdikbud.go.id dengan demikian penerima manfaat inisatif baik ini akan lebih luas.”

Follow me on social media:

2 Comments

Didut · 07/03/2021 at 7:40 pm

Aku udah baca programnya dan masih skeptikal kalau blueprint penyebarannya belum jelas.
Di Indonesia itu bukannya gak ada ide / inisiasi bagus sebetulnya tapi masih menjadi jargon doang jeleknya tanpa rencana implementasi yang baik.

    Oom Yahya · 07/03/2021 at 9:30 pm

    Yach, mudah2an ini setidaknya bisa memberikan dampak yang lumayan signifikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *