Anak Kucing dan Natal

Beberapa bulan yang lalu, ada seekor kucing yang beranak di atap bangunan samping rumah saya. Jendela kamar saya tepat menghadap ke atas bangunan itu, jadi saya bisa langsung melihat anak kucing yang lucu-lucu itu.

Tahu sendiri khan, anak kucing selalu “bergumul” dengan saudara-saudaranya. Nah, suatu ketika, saking hebatnya mereka bergumul, salah seekor anak kucing itu jatuh ke bawah. Karena masih kecil, anak kucing itu tidak mampu naik.

Mula-mula saya pikir anak kucing itu hilang. Tapi ternyata masih sering terlihat di belakang rumah. Akhirnya saya berinisiatif untuk mengambilnya dan mengembalikannya ke atap.

Tetapi kucing ya tetaplah kucing. Mana tahu dia maksud baik saya. Setiap kali saya dekati, dia malah lari dan bersembunyi. Bahkan ketika akhirnya dia terpojok, dia malah melawan, mencakar dan menggigit tangan saya.

Saya berpikir, seandainya saya bisa menjadi kucing, saya bisa berkomunikasi dengan anak kucing tersebut, memberitahukan padanya maksud baik saya, dan menyelamatkan dia. Ketika memikirkan hal itu, saya jadi tahu mengapa Tuhan sendiri harus datang menjadi manusia.

Manusia tidak pernah mengerti “bahasa” Tuhan, karena itu Tuhan-lah yang harus menjadi manusia agar Dia bisa menyampaikan berita keselamatan dalam “bahasa” manusia. Bahkan dalam “petualangan”-Nya sebagai manusia, Tuhan tidak saja menyampaikan berita keselamatan, melainkan Dia sendiri telah menjadi jalan keselamatan itu, dengan mati di kayu salib dan bangkit kembali pada hari ketiga.

Natal pertama telah terjadi sekitar 2000an tahun yang lalu. Dan itu tidak akan terjadi lagi. Natal yang sekarang kita rayakan adalah peringatan, bahwa Yesus telah lahir di dunia untuk menjadi jalan keselamatan kita. Kini dia mengetuk hatimu, sudahkah engkau mengijinkan Dia “lahir” di hatimu?

Follow me on social media:

Similar Posts

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.