Review Huawei P9 Lite

Mumpung lagi ramai berita tentang dirilisnya Huawei P9 di Indonesia, saya ingin menulis kesan saya tentang adiknya, Huawei P9 Lite. Sebenarnya sudah beberapa minggu yang lalu saya menggunakannya, hanya saja baru sempat menulis review Huawei P9 Lite ini sekarang.

Tidak seperti kakaknya yang ramai dibicarakan karena menggunakan kamera Leica, P9 Lite sepertinya jauh dari publikasi. Yach, anggap saja jika tak memiliki uang cukup untuk membeli Huawei P9, maka Huawei P9 Lite bisa menjadi pengganti, lumayan jadi obat kekecewaan. Setidaknya buat sombong masih bisa lah, mengaku-ngaku pake P9, ngomong “lite”-nya sengaja dibikin gak jelas dan cepat. 😂

Okeee, inilah kesan saya terhadap Huawei P9 Lite.

Body

Model body adalah soal selera dan sejujurnya saya katakan model body Huawei P9 Lite termasuk biasa saja. Untunglah sabuk logam yang mengelilingi body-nya cukup memberikan kesan cantik. Dengan ukuran layar 5.2 inci, body P9 Lite pas berada dalam genggaman.

Huawei P9 Lite

Huawei P9 Lite

Huawei P9 Lite ini dirancang untuk pengguna yang suka memegang ponsel dengan tangan kiri. Mengapa? Mudah saja, karena tombol back ada di kiri. Saat dipegang dengan satu tangan, jari yang paling bebas bergerak adalah jempol dan karena tombol back ada di kiri, tentulah jempol kiri yang paling mudah menjangkaunya.

Sedangkan tombol power dan volume di sebelah kanan mudah dijangkau oleh jari telunjuk atau tengah. Hanya saja, tombol power berukuran terlalu kecil dan letaknya terlalu dekat dengan tombol volume, sehingga pada saat awal-awal menggunakan Huawei P9 Lite ini, saya beberapa kali keliru menekan tombol volume down saat hendak menekan tombol power. Namun kini setelah terbiasa, justru letak tombol power dan volume tersebut menyenangkan karena saya bisa mengambil screenshot hanya dengan satu jari saja.

Huawei P9 Lite

Satu yang saya tidak suka adalah letak lensa kamera belakang yang berada di sudut kiri atas. Jika tangga adalah musuh abadi Po si Panda, maka letak kamera belakang di sudut adalah musuh abadi saya. Ya ini sebenarnya subjektif sekali sih, soalnya jika saya mengambil foto dengan posisi landscape, jari saya yang memegang bagian sudut itu suka ikut terpotret.

Huawei P9 Lite

Material body Huawei P9 Lite bagian belakang terbuat dari plastik, sangat berpotensi baret. Untunglah Huawei memberikan cover belakang untuk melindunginya.

Satu lagi yang disediakan oleh Huawei adalah lapisan anti gores untuk layarnya karena layarnya belum dilindungi oleh Gorilla Glass. Nilai plus untuk Huawei yang menyediakan lapisan anti gores tersebut sehingga pembeli tak perlu mencari sendiri namun nilai minus karena tidak melapisinya dengan Gorilla Glass. Kompetitor di rentang harga setara bisa dibilang sudah melengkapi layar dengan Gorilla Glass.

Antarmuka

Antarmuka Huawei dikenal dengan nama Emotion UI atau sering disingkat EMUI. EMUI menggunakan konsep sama seperti MIUI, yaitu tidak menggunakan App Drawer. Semua launcher diletakkan pada home screen yang tentunya akan dibagi menjadi beberapa halaman bila satu halaman tak cukup untuk menampung semuanya.

Huawei P9 Lite

Bila ada aplikasi baru yang di-install, launcher akan diletakkan pada ruang kosong yang tersedia atau membuat halaman baru jika sudah penuh. Launcher aplikasi yang baru saja di-install diberi animasi seolah ada cahaya yang bergerak pada launcher tersebut, jadi pengguna akan mudah menyadari bahwa launcher tersebut adalah aplikasi yang baru saja di-install.

Panel notifikasi dibagi menjadi dua halaman, yaitu Notifications dan Shortcut. Halaman Notifications berisi notifikasi bila ada pesan masuk atau hal lain yang butuh untuk diperhatikan segera. Halaman Shortcut berisi launcher untuk mengaktifkan atau mematikan feature tertentu, misalnya Wi-Fi, Bluetooth, Autorotate, Airplane mode, dan lain-lain.

Secara default, bila Anda hendak membuka EMUI dengan menekan tombol power, lock screen akan selalu berganti. Gambarnya bagus-bagus pula. Lock screen akan dilewati bila Anda membuka EMUI dengan menggunakan pemindai sidik jari.

Huawei P9 Lite

Pemindai sidik jari Huawei P9 Lite ini terus terang agak angin-anginan. Di satu waktu, dengan sangat cepat akan membuka layar meski hanya disentuh sedikit saja tapi di lain waktu bisa agak ngadat, mesti disentuh dengan sedikit keras baru bisa berfungsi.

Huawei dengan EMUI-nya ini menggunakan model on screen atau virtual button untuk ketiga tombol Android. Kelebihannya, desain serta tata letak tombol mudah sekali diganti. Bila Anda tak suka tombol back di kiri, bisa saja diganti di kanan. Namun tentu saja ada kekurangannya, yang paling terasa adalah makan tempat di layar. Bila memutar video secara full screen, tombol tersebut jadi hilang. Bagian atas layar harus dicolek sedikit untuk menampilkan kembali ketiga tombol Android.

Selain video, Anda juga bisa mengatur agar suatu aplikasi tampil penuh, menutup ketiga tombol Android. Caranya: buka Settings > Apps, lalu ketuk tombol Advanced di bagian bawah, kemudian pilih item Draw over other apps, ketuk nama aplikasinya, lalu aktifkan opsi Permit drawing over other apps.

Kinerja

Meskipun menggunakan prosesor yang tidak terkenal, yaitu HiSilicon Kirin 650 buatan mereka sendiri, namun kinerja Huawei P9 Lite tidaklah mengecewakan.

Multi tasking lancar, lock GPS relatif cepat, dan yang terpenting adalah tidak panas. Untuk bermain game, P9 Lite juga cukup mumpuni. Saya sempat mencoba bermain game FIFA Mobile, grafisnya tidak mengecewakan dan juga tidak terasa ada lag saat bermain. Barangkali loading-nya yang sedikit agak lama jika dibandingkan dengan ponsel dengan prosesor lebih baik.

Bila ada aplikasi yang cukup memakan sumber daya, EMUI akan menampilkan peringatan melalui notifikasi dan Anda bisa membuka notifikasi tersebut untuk melihat aplikasi apa saja yang memakan sumber daya. Bila perlu, satu atau dua aplikasi yang benar-benar tidak diperlukan bisa dimatikan.

Huawei P9 Lite

Dan bagi Anda yang merasa penting dengan benchmark, inilah dia benchmarknya, diambil dengan AnTuTu.

Huawei P9 Lite

Foto

Nah, bagian inilah yang merupakan salah satu hal yang diandalkan oleh Huawei dalam menjual P9 Lite ini. Meski tidak dirancang bersama Leica, namun hasil foto yang diambil oleh P9 Lite sangat bisa diandalkan.

Aplikasi kameranya sigap dan proses pengambilan gambar juga cepat. Jadi momen berharga pasti tak terlewatkan.

Pilihan mode kamera bisa diaktifkan dengan mencolek sisi kiri layar, sedangkan dengan mencolek sisi kanan layar, akan muncul berbagai setingan kamera.

Salah satu keunggulan kamera P9 Lite adalah pada mode manual. Anda bisa mengatur ISO, shutter speed, AWB, dan fokus manual. Dengan berbagai mode tersebut, P9 Lite bisa digunakan untuk memotret dengan konsep long exposure.

Berikut akan saya berikan beberapa contoh foto yang diambil dengan Huawei P9 Lite dan Anda juga boleh follow Instagram dan Twitter saya karena saya sering berbagi foto juga di kedua akun tersebut.

Huawei P9 Lite

Huawei P9 Lite
Foto dalam keadaan low light

Huawei P9 Lite

Harga Huawei P9 Lite saat saya beli beberapa waktu lalu adalah Rp 3.799.000,-

 

Follow me on social media:

3 thoughts on “Review Huawei P9 Lite

  1. wah lumayan jg harganya, walau kinerjanya mungkin termasuk standar, kalo daya tahan battrenya gimana mas?

    dan saya penasaran itu moto body P9 nya pake kamera apa hehe

    1. Oom Yahya

      Oh iya saya malah lupa gak bahas baterai.
      Daya tahan baterai standar lah. Bisa dibilang lumayan irit. Cuma ngechargenya agak lama, 2.5 jam baru penuh.
      Yang dipake untuk memotret P9 ya sudah jelas Zenfone 3 lah, gak usah ditanya lagi itu :p

  2. Pingback: Huawei Honor 3C, Ponsel Murah Berkualitas - BOY: Blog Oom Yahya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *