3 Cara Membedakan Kebutuhan vs Keinginan

Jumat, 24 Juni 2022 yang lalu, saya menghadiri roadshow yang diselenggarakan oleh ASUS dalam rangka peluncuran ASUS VivoBook 13 Slate OLED (T3300).

Laptop ini unik karena merupakan laptop OLED pertama dan mungkin sampai dengan saat ini adalah satu-satunya yang layar dan keyboardnya bisa dilepas. Laptop Vivobook 13 Slate OLED (T3300) sudah menggunakan sistem operasi terbaru yaitu Windows 11.

Salah satu fitur andalan yang ada di Windows 11 adalah Widgets. Temukan foto favorit kamu, berita terbaru, daftar tugas hari ini dan cuaca esok dengan mudah.

Widgets membantu menemukan konten yang penting bagi kamu, demi hidup yang sedikit lebih teratur. Widgets juga menunjukkan meeting kamu yang akan datang. Dapatkan pengingat daftar tugas dan jadwal kalender kamu. Memberikan pembaruan cuaca lokal secara langsung.

Temukan Widget pada Windows 11. Sesuaikan untuk mendapatkan pembaruan terkini seputar berita, kehidupan sosial, dan artikel penting bagi kamu, serta pengingat dari kalender dan daftar tugas kamu.

Ketika mendapatkan penjelasan mengenai laptop ini, pikiran saya langsung mengarah ke salah satu persoalan yang sering dihadapi oleh manusia, yaitu kebutuhan vs keinginan.

Kebutuhan dan keinginan merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, keduanya bisa berjalan beriringan tapi sedihnya, kebutuhan vs keinginan lebih sering berbenturan.

Kebutuhan adalah segala hal yang diperlukan oleh manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sedangkan keinginan lebih cenderung kepada harapan untuk memiliki sesuatu.

Dari definisinya tersebut, bisa dipahami bahwa kebutuhan merupakan sesuatu yang mendesak dan penting, sehingga sedapat mungkin segera dipenuhi.

Seandainya dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut ada berbagai rintangan yang menghalang, sedapat mungkin rintangan tersebut segera dieliminasi, agar jalan untuk mencapai kebutuhan menjadi terang benderang.

Di sisi lain, sebuah keinginan, karena hanyalah sebuah harapan, tidaklah terlalu masalah jika sampai tidak tercapai. Paling-paling hanyalah kekecewaan yang ditimbulkan, tapi tidak sampai membahayakan kelangsungan hidup.

Ketika seseorang mampu memenuhi baik kebutuhan maupun keinginannya, maka akan timbul rasa puas. Di sinilah kemudian bisa timbul masalah.

Rasa puas yang muncul dari pemenuhan kebutuhan maupun keinginan bisa dibilang memberikan efek kelegaan yang sama, sehingga seringkali seseorang menjadi bias untuk menentukan manakah yang perlu dipenuhi terlebih dahulu antara kebutuhan vs keinginan.

Salah satu faktor yang barangkali bisa membantu seseorang dalam memutuskan untuk mendahulukan kebutuhan atau keinginannya adalah uang. Pemenuhan kebutuhan atau keinginan yang notabene sebagian besar perlu dibeli dengan uang, membuat seseorang bisa membuat skala prioritas berdasarkan kondisi keuangannya.

Terkadang, kondisi keuangan yang mepet justru membawa berkah terselubung, karena seseorang bisa dengan mudah memutuskan untuk mendahulukan kebutuhannya daripada keinginannya. Yang agak repot dan “berbahaya” justru kalau uangnya berlebih, karena bisa terjebak pada pemanjaan diri dengan membeli berbagai keinginan setelah kebutuhan terpenuhi.

Karena itu saya pikir kita perlu selalu belajar untuk membedakan kebutuhan vs keinginan. Berikut ini setidaknya ada tiga hal yang bisa dijadikan patokan apakah sesuatu hal merupakan kebutuhan kita atau hanya keinginan belaka.

kebutuhan vs keinginan

Apakah Mengancam Keberlangsungan Hidup?

Pada level yang paling mendasar, kebutuhan yang tidak dipenuhi bisa mengancam keberlangsungan hidup. Misalnya kita butuh makan, butuh pakaian, dan butuh rumah.

Kebutuhan akan makanan, pakaian, dan rumah bisa dipenuhi dengan makanan, pakaian, dan rumah sederhana.

Namun jika untuk hal yang sama kita membayangkan untuk mendapatkan makanan, pakaian, dan rumah yang mewah, kemungkinan besar ini hanya keinginan saja. Tentu bukannya tidak boleh menginginkan makanan, pakaian, dan rumah mewah, tetapi hal tersebut sebaiknya barulah diusahakan jika kondisi keuangan sudah mapan.

Apakah Hampir Selalu Sama Atau Sering Berubah?

Suatu kebutuhan kemungkinan besar datang dalam wujud yang selalu sama, setidaknya dalam jangka waktu yang cukup panjang, sedangkan keinginan bisa saja berubah-ubah dalam waktu singkat.

Misalnya kebutuhan akan alat transportasi karena di kota tempat kita tinggal sarana tranportasi publik kurang memadai, sehingga kita selalu mendapatkan kesulitan saat berangkat ke kantor. Andaikata kemudian diputuskan untuk membeli sebuah mobil, pikirkan masak-masak apakah bakal membeli mobil baru atau bekas, modelnya sedan, MPV, atau SUV, sesuai dengan medan yang akan dilalui.

Apabila setiap kali melihat iklan mobil atau mobil tertentu yang lewat di depan kita, lalu kita ingin memilikinya, besar kemungkinan itu hanya keinginan saja karena pasti mudah berubah saat melihat model lain yang lebih bagus.

Penekanan Pada Fungsi Atau Selera?

Saat sedang mempertimbangkan membeli sesuatu atas nama kebutuhan, apakah fokus kita pada fungsinya atau seleranya?

Jika benar pada fungsinya, maka itu adalah sebuah kebutuhan. Namun jika kita menginginkan sesuatu yang lebih mewah, lebih keren, lebih mahal, padahal tidak ada nilai tambah pada fungsinya, hampir pasti itu adalah keinginan saja.

Contoh kebutuhan akan mobil di atas bisa dipakai lagi untuk memberikan gambaran tentang hal ini.

Memilih Laptop, Antara Kebutuhan vs Keinginan

Nah, mari kita kembali lagi ke pembahasan soal laptop ASUS VivoBook 13 Slate OLED (T3300), terutama soal mengapa kok tiba-tiba saya kepikiran soal kebutuhan vs keinginan ini.

Begini, saat hendak membeli sebuah laptop, kita harus jujur pada diri kita tentang kebutuhan pekerjaan yang akan dilakukan pada calon laptop baru tersebut.

Apakah pekerjaan kantoran saja yang akan kita kerjakan? Kalau iya, jangan tergoda untuk berpikir, “ah kan sekali-sekali ingin main game juga”. Ya kalau game-nya sekadar Solitaire sih oke ya, tapi kalau kemudian ingin main FIFA atau Genshin Impact, ya selamat tinggal.

Masalahnya, kebutuhan CPU dan GPU kedua jenis aplikasi tersebut berbeda jauh. Pekerjaan kantoran hanya membutuhkan CPU dan GPU yang sederhana seperti Intel® Pentium® Silver N6000 1.1 GHz dan Intel® UHD Graphics, sementara untuk bermain game “berat”, dibutuhkan CPU setidaknya kelas Intel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz dan GPU Nvidia.

Selisih harga kedua jenis prosesor tersebut bisa sangat jauh.

Bisa dimengerti kalau jenuh bekerja, kita butuh hiburan juga, tapi tentu tidak bermain game seperti disebutkan tadi, bukan?

Hiburan yang barangkali setara dengan pekerjaan kantoran adalah nonton film seri secara streaming. Apakah CPU sederhana seperti yang disebutkan tadi sudah cukup? Tentu sangat cukup, yang dibutuhkan untuk streaming lebih soal koneksi internet yang kencang sih.

Laptop modern hampir pasti sudah dilengkapi dengan WiFi 6(802.11ax), menjadi koneksi yang kencang.

Selanjutnya, berapakah ruang simpan yang kita butuhkan? Mengolah dokumen perkantoran tentu tidak terlalu membutuhkan ruang simpan yang sangat besar. Menikmati film seri secara streaming juga tidak perlu ruang simpan besar.

Berhubung harga ruang simpan relatif mahal juga, perlu dipikirkan masak-masak berapa ruang simpan yang dibutuhkan kalau toh kebutuhannya tidak sangat besar seperti di atas. Barangkali mungkin justru yang lebih dibutuhkan adalah adanya card reader supaya bisa menyimpan dan memindahkan data dengan mudah.

ASUS VivoBook 13 Slate OLED (T3300) Memenuhi Kebutuhan Dasar

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim ASUS, didapat data bahwa 80% pengguna laptop itu sebenarnya hanya membutuhkan aplikasi office dasar seperti Word dan Excel, ya paling PowerPoint lah.

Di sisi lain, 61% pengguna banyak menggunakan laptopnya untuk nonton video. Sementara itu persentase penggunaan laptop untuk media sosial dan online meeting juga lumayan, 49% dan 40%.

Untuk menyasar mereka yang benar-benar peduli soal kebutuhan vs keinginan, ASUS kemudian meluncurkan ASUS VivoBook 13 Slate OLED (T3300) yang siap memenuhi kebutuhan dasar seperti yang disebutkan di atas.

CPU dan GPU yang digunakan cukuplah Intel® Pentium® Silver N6000 1.1 GHz dan Intel® UHD Graphics.

Ruang simpan yang tersedia adalah 256 GB, tapi menggunakan teknologi PCIe® Gen3 SSD yang kencang. Ditambah adanya micro SD card reader.

Untuk menikmati video, kamu bakal terpuaskan karena layarnya yang berukuran 13,3 inci menggunakan OLED dan memiliki sederet fitur ini: FHD (1920×1080) 16:9, OLED, 100% DCI-P3, PANTONE Validated, VESA HDR True Black, TÜV Rheinland low-blue light, anti-flicker, Dolby Vision.

Jangan lupakan juga salah satu kelebihan penting laptop ini: keyboardnya bisa dilepaskan dari layarnya (detachable), sehingga menambah kenyamanan penggunaan saat hendak menikmati video.

Audionya tak kalah aduhai dengan sederet fitur ini: Smart Amp Technology, Dolby Atmos, Built-in 4-way stereo speakers, Built-in array microphone.

Jadi, kalau kamu sudah memiliki pengendalian diri yang kuat untuk menekan keinginan dan semata-mata ingin memenuhi kebutuhan, ASUS VivoBook 13 Slate OLED (T3300) merupakan laptop yang benar-benar cocok buat kamu.

Spesifikasi

Main Spec. Vivobook 13 Slate OLED (T3300)
CPU Intel® Pentium® Silver N6000 1.1 GHz (4M Cache, up to 3.3 GHz, 4 cores)
Operating System Windows 11 Home
Memory 8GB LPDDR4X
Storage 256GB PCIe® Gen3 SSD
Display 13.3”, FHD (1920×1080) 16:9, OLED, 100% DCI-P3, PANTONE Validated, VESA HDR True Black, TÜV Rheinland low-blue light, anti-flicker, Dolby Vision
Graphics Intel® UHD Graphics
Input/Output 1x 3.5mm Combo Audio Jack, 2x USB 3.2 Gen 2 Type-C support display + power delivery, Micro SD card reader
Camera 5MP (front)
13MP (rear)
Connectivity WiFi 6(802.11ax)+Bluetooth 5.2 (Dual band) 2*2
Audio Smart Amp Technology, Dolby Atmos, Built-in 4-way stereo speakers, Built-in array microphone
Battery 50WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion
Dimension 30.99 x 19.00 x 0.79 ~ 0.79 cm
Weight 0.78 Kg (without keyboard and cover stand)
Colors Black
Price Rp9.099.000
Warranty 2 tahun garansi global
Follow me on social media:

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.