Saat membayar belanjaan di kasir sebuah supermarket, saya ditanya oleh petugas "Bersediakah Bapak membulatkan nilai belanjaan Bapak? Selisihnya akan disumbangkan untuk PIN (Program Imunisasi Nasional)". Tanpa pikir panjang saya jawab ya.
Tapi setelah itu saya jadi berpikir bagaimana kalau saya tidak bersedia?
Misalnya nilai belanjaan saya adalah Rp 104.980,- dan saya membayar dengan uang 105.000,-. Kalau saya bersedia dibulatkan, ya sudah, selesai. Tapi kalau tidak bersedia bagaimana? Diberi kembalian Rp 20,-? Atau disuruh nelpooooooooooooonnnn ….?
Pada kenyataannya kembalian Rp 20,- itu toh tetap tidak diberikan, bukan? Mana ada uang pecahan Rp 5,- atau Rp 10,- sekarang ini. Masih mending kalau diberi permen. Tapi jelas tidak mungkin, harga permen pasti jauh di atas Rp 20,-.
Jadi untuk kasus-kasus nilai belanjaan tertentu, bersedia dibulatkan atau tidak, uang kembalian toh tetap tidak diterima. Saat itu kebetulan sedang ada program untuk menyumbangkan selisih pembulatan tersebut ke PIN, lha kalau pas tidak ada program apa-apa, ke mana larinya uang itu?
Saya jadi berpikir, seharusnya program seperti itu terus menerus diadakan. Kalau kebetulan pas tidak berbarengan dengan program lain (PIN dalam contoh kasus di atas), khan bisa saja selisih pembulatan itu disumbangkan ke Panti Asuhan atau dompet bencana alam.
Bagaimana menurut Anda?