Ada yang masih ingat sama teori relativitas Einstein? Tenang-tenang, saya tidak akan memulai artikel ini dengan kuliah fisika, wong saya sendiri juga sudah banyak lupa dengan teori-teori fisika, termasuk detail tentang teori relativitas waktu Einstein.
Cuma gini, salah satu isi teori relativitas waktu Einstein itu kan menyatakan bahwa waktu itu relatif. Kalau dijelasin lebih detail memang bakal jadi kuliah, tapi secara ringkasnya saja adalah durasi waktu yang dirasakan oleh seseorang bisa saja berbeda dengan waktu yang dirasakan oleh orang lain.
Duduk di atas jok sepeda motor yang baru saja terpanggang sinar matahari, walaupun duduknya cuma sedetik dua detik, rasanya lama sekali, tapi ngobrol dengan orang yang kita sukai, walaupun sudah dua jam ya tidak akan terasa lama.
Memang ini tidak tepat banget sih menggambarkan teori relativitas waktu Einstein karena lebih berkutat soal perasaan manusia. Kalau ingin mendapatkan pemahaman lebih detail, silakan nonton saja film Interstellar.
Dari tadi muter-muter soal relativitas waktu ini sebenarnya mau ngomong apa sih, Oom?
Hehe, sebenarnya saya mau ngomong soal perjalanan saya sebagai blogger 10 tahun terakhir ini.
Halah gitu aja mubeng munyer gak karuan.
Lho gini lho, 10 tahun terakhir perjalanan ngeblog itu kalau dirasa-rasakan, kok seperti baru kemarin ya, tapi kalau dipikir-pikir, ya memang sudah lama. Bingung tho? Sama, wkwkwk.
Pertanyaan yang sekaligus menjadi judul artikel ini merupakan pertanyaan yang sering menghantui saya juga. Sebagai pemilik blog ini, seringkali saya juga ingin memberikan sentuhan personal pada desainnya.
Hanya saja, sejujurnya saya ini kurang memiliki bakat seni, khususnya seni visual. Saya tidak bisa menggambar (OK, bisa sih bisa, tapi orang lain tidak bisa memahami gambar saya) dan kemampuan saya dalam hal memadukan warna rada payah.
Cogito, ergo sum. Kalimat ini merupakan sebuah pernyataan filosofis yang diucapkan oleh René Descartes, seorang filsuf kelahiran Perancis.
Ke dalam bahasa Inggris, kalimat ini sering diterjemahkan menjadi I think, therefore I am, dan dalam bahasa Indonesia menjadi saya berpikir, maka saya ada.
Pada abad pertengahan, seseorang memang akan eksis apabila ia berhasil mempersembahkan buah pemikiran yang filosofis, menarik, lebih maju ketimbang zamannya, atau melawan arus sekalian.
Intinya pada buah pemikirannya. Makanya kalimat saya berpikir, maka saya ada menjadi sangat relevan pada zaman itu.
Namun apakah kata mutiara tersebut tetap relevan hingga saat ini? Tentu saja masih. Tidak bisa disangkal bukan, bila orang yang berani menyatakan pendapatnya selalu akan lebih dikenal dibandingkan dengan yang diam saja?
Media Sosial dan Blog
Yang berbeda adalah media penyampaiannya. Pada zaman sekarang yang sudah sedemikian maju, semua orang bisa menyatakan pendapatnya melalui media sosial.
Hanya saja, media sosial cenderung digunakan untuk menyatakan pendapat secara spontan. Apa yang terpikir pada suatu saat tertentu, itu juga yang dilontarkan melalui media sosial.
Memang bukan berarti tidak ada sama sekali, tetapi relatif jarang orang menyampaikan materi terstruktur pada media sosial. Sifat media sosial yang membatasi jumlah karakter yang bisa ditampilkan (apalagi medis sosial seperti Twitter) membuatnya relatif sulit digunakan sebagai media untuk memaparkan pemikiran yang panjang.
Media yang lebih tepat untuk menuangkan buah pemikiran adalah blog. Tak heran jika sempat ada plesetan dari I think therefore I am menjadi I blog therefore I am atau saya ngeblog maka saya ada.
Seperti halnya media sosial yang memungkinkan semua orang melontarkan pemikirannya yang spontan, semua orang juga bisa ngeblog.
Ada beberapa platform blogging yang bisa dimanfaatkan untuk ngeblog. Dua platform yang relatif paling terkenal adalah WordPress dan Blogspot.
Melalui kedua platform tersebut, kamu bisa membangun sebuah blog tanpa harus keluar biaya tambahan selain koneksi internet.
Namun tak semua orang puas dengan fasilitas gratisan yang diberikan oleh kedua platform tersebut. Mereka menginginkan kendali yang lebih besar terhadap platform blogging milik mereka.
Memiliki Sebuah Domain
Nah, jika kamu termasuk orang yang ingin eksis di zaman internet ini, sekaligus menginginkan kendali yang lebih terhadap platform blogging milik kamu, maka hal yang kamu butuhkan adalah sebuah domain.
Selain memberikan kendali lebih terhadap perangkat blogging, memiliki domain sendiri juga memiliki beberapa manfaat lain.
Yang paling nampak jelas adanya soal personal branding. Nama domain yang menggambarkan nama seseorang tentu akan meningkatkan perhatian netizen terhadap keberadaan orang itu.
Apalagi jika domain tersebut diisi dengan konten yang menggambarkan portofolio pemiliknya.
Memiliki domain sendiri itu juga sifatnya luwes, karena selain bisa diisi dengan blog, kamu juga bisa mengisinya dengan berbagai aplikasi web lainnya, misalnya forum atau toko online.
Lalu apakah punya domain sendiri itu ribet? Jelas tidak, punya domain sendiri itu gampang, sesuai judul artikel ini. Bahkan dalam beberapa kasus, punya domain sendiri itu gratis loh. Kok bisa?
Begini, punya domain saja sebenarnya belum cukup. Kamu tentu perlu “komputer” untuk menjalankan aplikasi web (entah itu blog, forum, toko online) yang dinyatakan melalui nama domain tadi.
Layanan Web Hosting
Nah, “komputer” tersebut bisa kamu dapatkan melalui jasa web hosting. Seperti halnya komputer fisik yang harus kamu beli, jasa web hosting ini juga tentunya juga harus dibeli.
Dalam paket web hosting yang ditawarkan, biasanya sudah termasuk nama domain. Jadi inilah mengapa tadi saya tuliskan jika mendapatkan nama domain itu bisa gratis.
Salah satu penyedia jasa web hosting yang menawarkan paket hosting sudah termasuk domain gratis adalah Niagahoster. Dengan domain gratis Niagahoster, mimpi kamu untuk memiliki domain sendiri bakal terbuka lebar.
Niagahoster memiliki beberapa layanan web hosting yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kamu. Layanan tersebut terbagi ke dalam 3 golongan utama, yaitu shared hosting, Cloud Hosting, dan VPS hosting.
Shared Hosting
Shared hosting adalah layanan web hosting yang digunakan secara berbagi (shared) oleh semua pelanggannya. Jadi semua pelanggan menggunakan sumber daya server secara bersama-sama.
Model ini bisa dibayangkan sebagai sebuah gedung apartemen yang digunakan oleh banyak orang secara bersama-sama. Karena digunakan secara bersama-sama, tentu ada batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi untuk kenyamanan bersama.
Misalnya ada salah satu penghuni apartemen yang menggunakan listrik secara berlebihan atau membawa banyak teman sehingga memenuhi tempat parkir, tentu penghuni lain akan terganggu.
Shared hosting merupakan layanan yang paling murah dan paling umum digunakan. Selain murah, pengguna juga tidak harus memiliki pengetahuan teknis yang tinggi karena pengelolaan server dilakukan oleh penyedia jasa hosting. Namun seperti halnya ilustrasi apartemen tadi, ada banyak batasan yang harus ditaati.
Cloud Hosting
Cloud hosting adalah layanan web hosting dengan sumber daya yang berasal dari beberapa server yang saling terkoneksi dan berjalan secara bersamaan. Server-server yang saling terkoneksi tersebut dinamakan dengan cluster.
Kamu bisa membangun sebuah server virtual untuk hosting berdasarkan kebutuhan. Sumber daya bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan. Bahkan jika ada satu server yang bermasalah, server lain bisa memberikan dukungan atau berlaku sebagai back up. Hal seperti ini tidak akan ditemui jika menggunakan shared hosting.
Pengguna juga biasanya tidak harus memiliki pengetahuan teknis yang tinggi karena pengelolaan hosting dilakukan oleh penyedia layanannya.
Hanya saja, harga yang harus dibayarkan tentu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan shared hosting.
Virtual Private Server (VPS) Hosting
VPS hosting adalah layanan web hosting yang sumber dayanya berasal dari satu server fisik, tapi dibagi-bagi menjadi beberapa server virtual yang lebih “kecil”. Masing-masing server virtual tersebut berjalan seperti dedicated server, seolah-olah sebuah server fisik tersendiri.
Berbeda dengan shared hosting, sumber daya yang didedikasikan ke server virtual tersebut tidak dibagi dengan pengguna lain. Jadi jika kamu menggunakan jenis VPS hosting ini, kamu bisa mengelola server dan melakukan konfigurasi persis seperti keinginan kamu.
Namun keuntungan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan teknis memadai, karena semua konfigurasi server dilakukan sendiri. Harganya juga pasti relatif lebih mahal dibandingkan dengan shared hosting.
Keunggulan Niagahoster
Setelah menyimak berbagai jenis web hosting yang tersedia tadi, kamu bisa memutuskan untuk memilih yang manapun sesuai kebutuhan, karena Niagahoster menyediakan ketiganya.
Mengapa harus memilih Niagahoster? Karena berbagai keunggulan yang dimilikinya.
Niagahoster menggunakan Data Center Tier-4 yang memiliki performa mumpuni. Sebagai ilustrasi, jika pada hotel ada predikat bintang hingga bintang 5, maka tier-4 yang dimiliki oleh sebuah data center setara dengan hotel bintang 5, alias yang paling tinggi.
Data Center Tier-4 ini menjamin uptime hingga 99,999% per tahun.
Untuk digunakan sebagai platform blog, web hosting Niagahoster bakal memiliki kecepatan tinggi karena dilengkapi dengan fitur LiteSpeed dan WordPress Accelerator.
Soal keamanan, Niagahoster tidak perlu diragukan lagi karena dilengkapi dengan BitNinja, WanGuard, dan Imunify360.
Di luar hal-hal teknis tersebut, Niagahoster juga memberikan layanan terbaik, seperti customer service yang siap melayani 24/7 dan juga garansi 30 hari uang kembali jika kamu tidak puas.
Oh ya, omong-omong soal uang, harga layanan web hosting di Niagahoster bersaing loh. Kamu bisa mendapatkan layanan web hosting bahkan hanya dengan menyisihkan Rp10.000 per bulan! Pada paket tertentu juga ada diskon yang besar, mencapai 75%.
Ngeblog Itu Masih Asyik Kok – Menulis itu baik. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan melalui menulis.
Menulis melatih orang untuk mengemukakan pemikirannya secara teratur sekaligus pada akhirnya akan membuat kemampuan berbahasanya meningkat.
Bagi orang tertentu, menulis juga merupakan sebuah stress release, melepaskan diri dari ketegangan yang menekan.
Salah satu media yang paling mudah digunakan untuk menulis adalah blog. Menulis di blog tidak membutuhkan seleksi, tulisanmu sudah pasti bakal dimuat. (Ya, blogmu sendiri khan, hehe)
Dengan sedikit usaha, tulisanmu bakal bisa dibaca oleh banyak orang.
Malah jika tulisan kamu benar-benar bagus, potensi untuk menjadi terkenal melalui blog sangat besar. Pada tahun 2006-2008, banyak blogger yang sudah membuktikannya. Mulai dari bukan siapa-siapa, berkat tulisannya di blog kini menjadi selebriti.
Sayangnya, munculnya platform media sosial seperti Twitter dan Facebook perlahan-lahan “membunuh” semangat menulis di blog.
Menulisnya sih masih tetap, tapi sekarang berganti di media sosial.
Keuntungan menulis di media sosial adalah lebih cepat dan lebih interaktif. Umumnya yang ditulis hanya tulisan pendek dan sifatnya spontan, sehingga tidak perlu terlalu banyak berpikir.
Tanggapan dari para pembaca juga sifatnya spontan dan bisa langsung berbalas-balasan.
Namun dengan model penulisan seperti ini, sebenarnya tidak meningkatkan kemampuan berbahasa secara signifikan. Juga karena spontan, keteraturan pola pikir sedikit diabaikan.
Selain karena faktor munculnya media sosial, kesibukan pekerjaan juga turut andil dalam mengendurkan semangat menulis di blog.
Mereka yang tadinya mahasiswa, kini sudah harus bekerja, sebagian kemudian menikah, punya anak, sehingga tentunya kesibukan bertambah. Yang sudah punya anak ketika mulai ngeblog juga anaknya tentu bertumbuh besar dan membutuhkan perhatian lebih.
Untunglah masih ada blogger “lawas” yang masih aktif menulis walaupun mungkin frekuensinya menurun dan bermunculan pula blogger-blogger baru.
Diharapkan dengan masih ada banyak blogger ini, bertebaran pula konten positif di internet.
Niagahoster Layanan Hosting Andalan – Seorang pembalap, sebagus apapun skillnya, tetap membutuhkan mobil balap yang mumpuni. Demikian pula dengan seorang blogger.
Mau punya nama domain yang keren, mau punya skill menulis yang hebat, tapi jika blognya dijalankan di layanan hosting ala kadarnya, pasti tak akan maksimal.
Ada banyak layanan hosting yang bagus yang bakal membuat blog kalian wus wus wus. Hosting luar negeri maupun hosting Indonesia.
Karena banyak pilihan, mungkin kamu bakal sulit menentukan pilihan. Nah, supaya gak kesulitan, saya kasih tau bahwa salah satu hosting yang layak untuk dipertimbangkan adalah Niagahoster, salah satu hosting terbaik di Indonesia.
Seperti apa ya layanan yang disediakan oleh Niagahoster?
Yuk ikuti saja pengalaman saya dalam mencoba membangun sebuah blog baru yang menggunakan layanan hosting Niagahoster.
Sebagai blogger yang masih aktif, saya mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional 2016. Ya meskipun update pendek doang seperti ini, biar afdal gitu lah, masa mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional di Twitter atau Facebook, hehe.
Suka blogwalking? Atau suka mengisi komentar di situs-situs berita? Pastinya Anda kenal sama yang satu ini: Captcha. Captcha merupakan plugin yang cukup efektif digunakan untuk menghadang spam. Caranya adalah dengan menampilkan teks tertentu yang sangat sulit bahkan mustahil dibaca oleh bot (program komputer) namun diharapkan masih dapat dibaca oleh manusia. Jika manusia yang membacanya, maka dia dapat mengisi kotak teks sesuai dengan teks tadi.
Namun sebenarnya konsep Captcha ini sedikit salah sasaran. Jika yang hendak dihadang adalah spam, mengapa justru yang “dihukum” adalah manusia dengan harus memasukkan teks yang kadang sulit dibaca? Kadang-kadang hal ini mengakibatkan kunjungan ke suatu blog jadi berkurang karena malas memasukkan Captcha.
Rumor itu akhirnya menjadi kenyataan. Posterous bakal segera menutup layanannya. (doh) Sudah pasti bakal banyak yang kecewa. Tapi ya mau gimana lagi, wong itu layanan gratisan, kita tidak bisa menuntut apa-apa.
Nah, jangan terlalu larut dalam kekecewaan. Post di Posterous bisa dipindahkan ke WordPress. Meski platform Posterous memiliki sensasi yang beda dengan WordPress, setidaknya lumayan lah, posting tidak hilang.
Bagaimana caranya memindahkan Posterous ke WordPress? Tidak sulit kok.
Buat yang belum tahu, Favicon adalah ikon yang muncul di bagian address atau title bar browser, persis di sebelah kiri alamat URL atau judul situs.
Hampir pasti setiap browser akan menampilkan favicon ini. Kalau kamu tidak menambahkan favicon sendiri, yang ditampilkan pada browser adalah ikon default yang tentu biasa-biasa saja.
Kalau ingin browser menampilkan favicon yang khas, ya tentu harus bikin sendiri. Trus bagaimana caranya menambahkan favicon di blog?
Siapa yang cukup aktif ngeblog tapi cuek blognya mau dikunjungi orang atau tidak, dikomentari atau tidak? Jarang rasanya yang berperilaku demikian. Hampir semua pemilik blog pastilah kepo. (hassle)
Itu sebabnya, WordPress diperlengkapi dengan plugin WordPress Stats yang memungkinkan pemilik blog untuk memeriksa statistik kunjungan ke blognya. Sayangnya, plugin ini rupanya sering jadi momok bagi web server yang ditumpangi oleh blog WordPress (tentunya blog WordPress yang hosting sendiri), karena memakan resource yang cukup besar.
Saya sendiri pernah mengalami di-suspend sampai tiga kali oleh pengelola web server, ya gara-gara plugin WordPress Stats itu.