Arloji Bukan Sekadar Penunjuk Waktu – Meskipun alat penunjuk waktu kini semakin banyak ragamnya, termasuk di dalamnya adalah ponsel atau smartphone yang praktis dimiliki oleh semua orang, namun nampaknya arloji masih akan tetap teruntai di pergelangan tangan manusia.

Maklum, arloji tak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu saja melainkan juga bagian dari fashion. Sifat fashion ini yang relatif sulit digantikan oleh alat penunjuk waktu yang lain, termasuk ponsel atau smartphone.

Ya, smartphone memang bisa juga memiliki sifat fashion namun dalam pengertian yang berbeda dengan arloji.

Saya akui, tidak semua orang suka menggunakan arloji, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya. Saya hobi menggunakan arloji namun untungnya belum sampai tahap koleksi, hehe.

Arloji pertama yang saya gunakan adalah sebuah pemberian dari orangtua saya ketika saya naik kelas 6 SD kalau tidak salah (jangan tanya itu udah berapa tahun yang lalu).

Waktu itu, arlojinya adalah arloji digital yang memiliki beberapa fungsi selain arloji, seperti alarm dan stop watch.

Namun arloji digital ternyata membosankan bagi saya. Saya justru mulai tertarik pada arloji yang menggunakan jarum ketimbang digital. Meskipun arloji seperti ini tidak memiliki fungsi tambahan, justru saya tidak pernah bosan menggunakannya hingga sekarang.

Baca Juga
Honor 9 Lite, Langkah Awal Honor Indonesia Mendobrak Pasar

 

Sejarah Singkat Arloji

Sebuah alat penunjuk waktu diperkirakan telah ada sejak 3500 tahun sebelum Masehi. Siapa lagi penemunya jika bukan bangsa Mesir, bangsa yang memang sering disebut sebagai bangsa yang mengawali sejarah umat manusia.

Hanya saja dahulu bentuknya sangat besar, berupa sebuah tugu dan beroperasi memanfaatkan sinar matahari. Jadi bayangannyalah yang menunjukkan waktu.

Lompat ke zaman yang sudah jauh lebih modern, pada tahun 1500an mulai ada alat penunjuk waktu yang cukup kecil untuk dimasukkan ke kantong. Jadi abad ke-16 ini bisa dikatakan mulai ada transisi dari “clock” ke “watch”.

Diperkirakan, jam yang diikat ke pergelangan tangan mulai ada di abad ke-17. Jam tangan ini makin sempurna di tangan Abraham-Louis Perrelet yang mampu membuat jam tangan dengan penggerak otomatis di tahun 1780an.

Akhirnya arloji mulai diproduksi secara masal pada tahun 1850, di Amerika. Sedangkan negara produsen arloji dengan kualitas terbaik adalah Swiss.

Baca Juga
Hubungan Antara Jati Diri dan Eksistensi Jam Tangan Pria

Kini arloji telah tersedia dalam berbagai model dan bentuk, sehubungan dengan fungsi “tambahan” sebagai fashion tadi. Bahkan ada perusahaan fashion yang juga memproduksi jam tangan, sebut saja jam tangan guess.

 

Macam-macam Arloji

Secara garis besar, menurut saya, arloji bisa dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu analog, digital, dan smartwatch. Namun memang terdapat kombinasi yang cukup beragam di antara arloji analog dan digital.

Jam tangan digital dan smartwatch hampir bisa dipastikan didayai oleh baterai, sedangkan arloji analog selain didayai oleh baterai bisa juga menggunakan teknologi tertentu sebagai pengisi daya, misalnya menggunakan energi kinetik (mengubah energi pergerakan tangan pengguna menjadi energi yang memberi daya pada arloji).

 

Hal Unik Tentang Arloji

Pernahkah kamu perhatikan hal unik tentang arloji, terutama bila angka arloji tersebut menggunakan angka romawi? Ya, angka 4 pada arloji dituliskan dengan IIII, bukan IV.

Tidak ada yang tahu pasti mengapa demikian, namun setidaknya ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebabnya.

Yang pertama terkait dengan nama dewa Jupiter. Dulu, Jupiter ditulis dengan IVPITER dan sebagai penghormatan, mereka tidak berani menuliskan nama depan dewa Jupiter, jadi mereka tidak menuliskan IV pada arloji, melainkan IIII.

Baca Juga
Snapdragon, Sang Naga di Era Modern

Ada juga yang mengatakan bahwa raja Louis XIV pada waktu itu ngotot bahwa penulisan yang benar adalah IIII, bukan IV. Tentu saja rakyat jelata tidak ada yang berani melawan.

Alasan yang lebih “ilmiah” adalah soal keseimbangan bobot arloji. Dahulu, arloji dibuat dari logam yang relatif berat, sehingga bagian kiri dan kanan kudu seimbang. Nah, bagian kiri arloji ada angka 8 yang ditulis dengan VIII, sedangkan posisi “lawannya” adalah angka 4, jika angka 4 ditulis dengan IV, maka bobotnya menjadi kurang seimbang, sehingga dituliskan IIII.

Jadi mana yang benar? Ah tidak penting, yang penting semua tahu itu maksudnya angka 4.

Masih terkait hal unik dengan arloji, saya pernah punya pengalaman beli arloji gratisan melalui Facebook, hanya membayar ongkos kirim saja.

Sejujurnya sih saya khawatir itu penipuan, eh tapi ternyata dikirim juga. Walaupun arlojinya tidak yang bagus-bagus amat, tapi lumayanlah untuk koleksi.

Follow me on social media:

5 Comments

didut · 05/01/2018 at 11:58 am

So far koleksiku untuk jam hanya Fossil, somehow cocok dengan designnya ^^

btw Ads-nya banyak banget om hahahaha

    Oom Yahya · 05/01/2018 at 12:07 pm

    Makasih kunjungannya, Dut.
    Yach, ads yg banyak ini demi mengumpulkan segenggam berlian (lol)

Aang verianto · 05/01/2018 at 5:04 pm

Sekarang arloji juga jadi life style..

zam · 14/01/2018 at 1:10 pm

ku sejak pake Mi Band 2, dah ga pernah pake arloji lagi.. 😂

Hendra Suhendra · 25/01/2018 at 10:01 am

Kalo saya masih setia pakai Casio, jamnya awet dan kuat. Masih belum koleksi sih, satu aja gak abis-abis, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *