Manusia pada dasarnya selalu ingin memiliki kehidupan yang nyaman. Bahkan yang diinginkan adalah setiap hari selalu lebih nyaman dibandingkan hari sebelumnya.

Karena itu tak mengherankan jika dalam sejarah kehidupan umat manusia, dari waktu ke waktu selalu ditandai dengan berbagai penemuan yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan mereka.

Mulai dari kemampuan menyalakan api, sehingga tak perlu lagi menunggu adanya api dari pohon yang tersambar petir misalnya, kemampuan untuk membuat perkakas logam, hingga kemampuan membuat roda.

Penemuan-penemuan ini membuat lompatan yang cukup signifikan dalam kehidupan manusia, bahkan menjadi dasar dari berbagai teknologi yang akhirnya sangat akrab kita jumpai sehari-hari, misalnya kompor, lampu, mobil, dan lain-lain.

Pada zaman yang sudah relatif modern, ketika nampaknya kehidupan manusia sudah nyaman, sekali lagi terjadi lompatan teknologi yang mengubah wajah dunia ini. Itu terjadi saat komputer mulai bisa dinikmati oleh masyarakat luas, sekitar dekade 1980-an.

Foto oleh Niclas Illg di Unsplash

Pada dekade 1980-an ini, terjadi revolusi digital. Berbagai peralatan yang saat itu sudah digunakan oleh banyak orang, baik yang berada di tempat umum maupun ruang privat, berevolusi dari analog menjadi digital.

Contoh paling nyata adalah penggunaan mesin ketik yang kemudian diambil alih oleh peranti lunak pengolah kata pada komputer. Dokumen yang semula diketikkan pada kertas secara analog, kemudian dapat disimpan dengan format digital, dan baru dicetak pada kertas ketika telah selesai disunting di dalam komputer.

Revolusi digital semakin bergulir pada dekade 1990-an, dengan contoh produk digital yang ngetren pada zaman itu adalah kamera digital dan menyusul kemudian telepon seluler.

Memasuki abad ke-21, wajah dunia kembali berubah, ketika internet mulai lazim digunakan. Memang internet mulai dikembangkan pada dekade 1970-an, tapi saat itu hanya kalangan sangat terbatas yang bisa menggunakannya, itupun lebih ke arah penelitian dan pengembangan. Baru memasuki abad ke-21, internet makin banyak digunakan.

Fenomena digital dan internet ini pada akhirnya merambah ke berbagai bidang kehidupan, bukan saja untuk mempermudah kegiatan sehari-hari, tapi juga mulai digunakan untuk berbisnis.

Pada awal dekade 2000-an, mulailah bermunculan aneka bisnis di dunia maya. Karena nama brand bisnis tersebut terwakili oleh nama domain yang berakhiran .com, maka fenomena bermunculannya bisnis di dunia internet ini disebut dengan fenomena dot-com.

Fenomena dot-com ini mengalami pasang surut, ditandai dengan beberapa situs dot-com yang naik daun dan yang kemudian bangkrut.

Meski begitu, tidak menyurutkan niat banyak orang untuk terus berupaya berbisnis melalui internet mengingat potensinya yang begitu luar biasa.

Salah satu bentuk bisnis melalui internet yang disukai adalah e-commerce alias berdagang secara elektronik (digital).

Foto oleh Mediamodifier dari Pixabay

Pada awalnya banyak pihak yang membuat toko online sendiri, tapi karena secara teknis membutuhkan biaya besar dan pengetahuan pemrograman atau manajemen web yang memadai, opsi membuat toko online sendiri kurang disukai.

Bentuk e-commerce akhirnya berevolusi menjadi marketplace atau dalam bahasa Indonesia dipopulerkan dengan istilah lokapasar.

Lokapasar ini dapat dibayangkan sebagai sebuah pasar yang berada di dalam suatu lokasi bangunan yang besar dan di dalamnya banyak lapak-lapak pedagang, tapi lokasinya adalah di internet. Boleh juga diibaratkan sebagai sebuah mall online, di dalamnya terdapat banyak toko-toko yang menjual bermacam-macam barang dagangan, bahkan juga jasa.

Berhubung internet dapat dijangkau hingga berbagai pelosok negeri, bahkan juga luar negeri, maka pembeli lapak-lapak di loka pasar tersebut juga bisa berasal dari manapun, sepanjang terkoneksi ke internet.

Hampir mustahil bagi para pedagang jika mereka harus mengirimkan sendiri barang yang mereka jual ke pembeli yang lokasinya sangat jauh. Jika penjual mengirimkan sendiri barangnya, maka harga jual bisa melonjak beberapa kali lipat dan itu jelas merugikan keduanya.

Penjual jelas tidak akan bisa menerapkan harga yang bersaing, sementara pembeli tidak bisa mendapatkan harga barang yang lebih terjangkau. Di sinilah peran logistik menjadi sangat penting.

Jika bicara logistik, maka salah satu brand yang cukup terkenal menawarkan jasa kurir hingga ke berbagai pelosok nusantara adalah JNE.

JNE menjadi perantara antara penjual dan pembeli, menghantarkan barang untuk tiba ke pemiliknya yang sah.

Foto oleh Devanath dari Pixabay

Peran logistik ini seolah-olah menjadi mata rantai terakhir yang melengkapi proses revolusi digital, khususnya di bidang perdagangan.

Saat ini, logistik bisa dikatakan baru pada tahap melengkapi proses revolusi digital, karena sebagian besar masih harus dilakukan secara manual, misalnya proses pengambilan, sortir barang, dan proses pengantarannya.

Suatu saat kelak, bila pengantaran bisa dilakukan menggunakan drone misalnya, barulah revolusi digital itu lengkap.

Follow me on social media:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *