Nafas Pepet (bukan nama sebenarnya) tertahan. Di hadapannya berdiri sesosok gadis yang sangat cantik. Belum pernah ia berjumpa dengan gadis secantik itu. Belakangan diketahuinya bahwa gadis tersebut bernama Memeng (juga bukan nama sebenarnya). Dan pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan di antara keduanya.

Bagi Memeng, perkenalan itu tidak menimbulkan kesan istimewa. Tapi beda dengan Pepet. Di mana saja dan kapan saja bayang-bayang Memeng selalu mengikutinya. Dalam bayangan Pepet, Memeng nampak bagaikan malaikat. Namun Pepet juga merasakan adanya nuansa resah pada Memeng. "Memeng memang malaikat yang resah", gumam Pepet.

"Aku akan mengisi relung hatimu, untuk mengusir keresahanmu", demikian tekad Pepet. Singkat cerita, Pepet berhasil juga menaklukkan hati gadis pujaannya itu.

Dalam sebuah event yang diadakan belum lama ini, Memeng mencurahkan isi hatinya pada seorang teman, mengapa akhirnya ia mau menerima Pepet.

Selamat Pepet dan Memeng. Semoga hubungannya langgeng dan berlanjut ke jenjang berikutnya. Dan seperti dongeng-dongeng klasik HC Andersen, saya berharap cerita ini ditutup dengan kalimat: And they lived happily ever after.

Follow me on social media:
Balada Pepet dan Memeng

35 thoughts on “Balada Pepet dan Memeng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.