Berita tentang akan diulanginya Pilkada Jawa Timur di beberapa daerah pemilihan membuat saya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, pemilihan ulang tersebut akan memakan setidaknya 18 Milyar Rupiah (angka 18 diikuti 9 buah nol! Betapa banyak nolnya :mrgreen: ).

Okey, saya akui saya memang bukan pengamat politik dan hukum, jadi seandainya memang ada kecurangan-kecurangan tertentu dalam proses pemilihan tersebut yang membuatnya cacat hukum, saya juga tidak mengerti. Jadi bukan hal itu pulalah yang akan saya soroti.

Saya mengandaikan kalau saja pihak yang kalah legowo dan menerima kekalahannya secara jantan, maka proses pemilihan ulang tidak perlu diadakan dan uang rakyat sejumlah 18 Milyar tidak perlu dihambur-hamburkan. Kalau seandainya hasil pemilihan ulang ternyata sama saja, bukankah itu mubazir? Kalau ternyata hasilnya justru memenangkan pihak yang kalah dan pihak yang sebelumnya memang kemudian menuntut ke pengadilan, buntutnya malah makin panjang lagi, bukan?

Ah, sebagian besar dari kita memang tidak siap untuk kalah.

Mungkin itu akibat didikan masa kecil kita yang kemudian terekam di alam bawah sadar kita. Coba ingat-ingat kembali, atau barangkali perhatikan sekeliling Anda, kalau anak kecil jatuh karena tersandung batu misalnya, maka orang tua atau orang yang mengasuh anak kecil tersebut akan dengan cepat menyalahkan batu tadi. "Wah, batunya nakal ya, bikin adik jatuh". Padahal apa salah batu itu? Dari tadi dia diam saja, bukan?

Hal tersebut akan membuat kita akan selalu menyalahkan sesuatu yang ada di luar kita, entah itu keadaan, orang lain, atau malah kadang-kadang Tuhan. Kita inilah yang paling benar.

Ah, entahlah, saya makin tidak mengerti akan carut marutnya negeri ini. Seperti kata U2 di salah satu hitsnya: But I still haven’t found what I’m looking for, yang kebetulan saat ini sedang menyeruak keluar dari audio system saya.

Follow me on social media:
Siap Menang Siap Kalah

19 thoughts on “Siap Menang Siap Kalah

  • 04/12/2008 at 1:51 am
    Permalink

    semoga semua bisa menerima dengan lapang dada. termasuk pendukung dan calonnya :D

    Reply
  • 04/12/2008 at 5:49 am
    Permalink

    kalah itu biasa om yahya, tapi kalo kalah karena dicurangi kita tetep kudu mengadvokasi diri.
    “orang sabar disayang Tuhan, terlalu sabar ditindas orang.”

    Reply
  • 04/12/2008 at 6:02 am
    Permalink

    Seandainya ikut pilkada itu nggak mbayar mungkin lebih siap menang dan kalah. Tapi mas Yahya, dana kamanyenya itu lhoh yang angka nolnya juga panjang.

    Makanya nggak tahu saya gimana desain demokrasi di Indonesia ini. Lihatnya aja sudah capek.

    Reply
  • 04/12/2008 at 6:46 am
    Permalink

    ah itulah, saya paling gak setuju ada pilkada2 ginian….gak worth it….apa dengan pemilihan langsung seperti itu, rakyat bakal dapet kehidupan yg lebih baek???….fuck democracy!

    Reply
  • 04/12/2008 at 9:19 am
    Permalink

    iya Pak, betul sekali.. mental bangsa ini tidak siap kalah, mungkin karena efek penjajahan berabad-abad itu kali ya… sekarang saatnya menjajah… hohohoho

    eh btw, kemaren saya juga dengerin lagu itu sepanjang perjalanan macet saya ke kantor… :lol:

    Reply
  • 04/12/2008 at 1:33 pm
    Permalink

    habis dilantik, pertama yang dilakukan:
    1. merekap utang.
    2. cari usaha untuk mengembalikan utang
    3. jika masih sempat sebelum lengser atau dilengserkan, bagi-bagi bonus ke pendukung.
    4. rakyatnya tetap, yang nganggur tetap nganggur malah bisa-bisa tambah jadi kere, yang melarat jadi tambah sengsara.

    jadi uang dan biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pilkada, pilkadut, pilwali, pil-pil yang lain tidak sebanding dengan hasil yang akan dinikmati rakyat. malah-malah ‘umek’ sendiri tuh calonnya. dibohongi kok mau aja.

    akhirnya semua kembali kepada uang.

    jangan banyak berharap deh sama para calon pemimpin.

    sing masih seneng pilih-pilihan dan mengais rezeki dari situ ya monggo.

    sing nggak suka, ya sudahlah nggak usah ikut-ikutan.

    mending bekerja yang giat, tekun, smart untuk cari uang sebanyak-banyaknya. meningkatkan kualitas hidup pribadi.
    dan jangan lupa jika sudah banyak uang dan kaya raya sisihkan sebagian untuk mereka yang membutuhkan.

    Reply
  • 04/12/2008 at 2:40 pm
    Permalink

    siap menang siap kalah sepertinya tak cukup mas..
    perlu tambahan siap main curang, siap dicurangi, dan siap menerima kecurangan.. :D

    Reply
  • 04/12/2008 at 5:26 pm
    Permalink

    jadi kapan buku bertemakan politik tulisan Yahya Kurniawan S.T. itu keluar?

    Reply
  • 05/12/2008 at 4:45 pm
    Permalink

    hahahaha ya gitulah Indonesia… kalau kalah pasti cari-cari biar gak kalah…

    Reply
  • 06/12/2008 at 11:36 am
    Permalink

    weh iya to, zam, mas yahya mo alih profesi jd pengamat politik nyaingi j.kristiadi itu ya ?? :mrgreen:

    Reply
  • 10/12/2008 at 8:46 am
    Permalink

    Oo.. Yahya Kurniawan yang itu ya? Juragan buku IT? Salam kenal Mas. Mau bikin PSK Mas? Partai Siap Kalah … he…he.

    Reply
  • 12/12/2008 at 10:09 pm
    Permalink

    menerima kekalahan memang tak mudah, maka berbahagialah manusia yang mampu menerima kekalahannya dan belajar dari kekalahan itu…

    Reply
  • 15/12/2008 at 2:07 pm
    Permalink

    ahhh, pilkada jatim yg ga beres beres -____________-;

    Reply
  • 01/01/2009 at 11:03 pm
    Permalink

    Ada gak ya? Pemimpin kita yang seperti McCain.

    Dimana saat dinyatakan kalah, dengan bangga, dia mengucapkan selamat kepada Obama.
    Dan meminta pendukungnya menerima kekalahan secara sportif.

    Saya pikir, jiwa besar seperti itu yang diperlukan, semua calon di negera ini. termasuk calon pemimpin, calon legislatif, calon pemilih.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.