Membaca artikel di blog Okto Silaban yang berjudul Linux dan Sebuah Kebohongan, saya jadi tergelitik untuk menulis juga tentang hal yang senada. Judulnya pun hanya saya pelesetkan sedikit dengan mengganti sebuah huruf h dengan l. Di tulisannya tersebut, Okto Silaban mempertanyakan mengapa migrasi ke Linux relatif sulit dilakukan. Kalaupun ada, biasanya hanyalah pada level server, bukannya workstation.
Menurut pendapat saya, penyebabnya adalah karena adanya kebolongan (lubang) yang belum terisi di lingkungan Linux, yaitu game yang menarik. Sesederhana itu? Tanpa ragu-ragu saya jawab ya.
Jika ada perdebatan mengenai migrasi ke sistem operasi Linux, salah satu pendapat yang dikemukakan adalah pemutusan lingkaran setan dalam penggunaan sistem operasi Windows. Sekarang ini, hampir semua pengguna komputer nyaman menggunakan Windows. Mengapa? Karena sejak kecil sudah menggunakan Windows. Sekarang, bagaimana kalau sejak kecil anak-anak dididik menggunakan Linux, agar besarnya nanti terbiasa menggunakan Linux? OK, usul yang bagus.
Sekarang, bagaimana caranya memperkenalkan anak-anak kepada komputer? Game adalah jawabannya. Bolong Bohong kalau orang bilang anak-anak bisa tertarik komputer karena belajar programming, word processor, atau spreadsheet. Nah, kalau tidak ada game yang menarik untuk anak-anak, bagaimana anak-anak mau tertarik pada Linux.
Anak saya pun demikian, waktu saya ajari pake game di Linux, dooh, susahnya 1/2 hidup. Tapi mata mereka langsung “on” begitu melihat betapa indah dan warna-warninya game yang ada di Windows.
Jadi nampaknya kebolongan itu mesti diisi dulu, sebelum Linux bisa lebih memasyarakat lagi.
Follow me on social media:
Leave a Reply