Membaca artikel di blog Okto Silaban yang berjudul Linux dan Sebuah Kebohongan, saya jadi tergelitik untuk menulis juga tentang hal yang senada. Judulnya pun hanya saya pelesetkan sedikit dengan mengganti sebuah huruf h dengan l. Di tulisannya tersebut, Okto Silaban mempertanyakan mengapa migrasi ke Linux relatif sulit dilakukan. Kalaupun ada, biasanya hanyalah pada level server, bukannya workstation.
Menurut pendapat saya, penyebabnya adalah karena adanya kebolongan (lubang) yang belum terisi di lingkungan Linux, yaitu game yang menarik. Sesederhana itu? Tanpa ragu-ragu saya jawab ya.
Jika ada perdebatan mengenai migrasi ke sistem operasi Linux, salah satu pendapat yang dikemukakan adalah pemutusan lingkaran setan dalam penggunaan sistem operasi Windows. Sekarang ini, hampir semua pengguna komputer nyaman menggunakan Windows. Mengapa? Karena sejak kecil sudah menggunakan Windows. Sekarang, bagaimana kalau sejak kecil anak-anak dididik menggunakan Linux, agar besarnya nanti terbiasa menggunakan Linux? OK, usul yang bagus.
Sekarang, bagaimana caranya memperkenalkan anak-anak kepada komputer? Game adalah jawabannya. Bolong Bohong kalau orang bilang anak-anak bisa tertarik komputer karena belajar programming, word processor, atau spreadsheet. Nah, kalau tidak ada game yang menarik untuk anak-anak, bagaimana anak-anak mau tertarik pada Linux.
Anak saya pun demikian, waktu saya ajari pake game di Linux, dooh, susahnya 1/2 hidup. Tapi mata mereka langsung “on” begitu melihat betapa indah dan warna-warninya game yang ada di Windows.
Jadi nampaknya kebolongan itu mesti diisi dulu, sebelum Linux bisa lebih memasyarakat lagi.

19 responses to "Linux dan Sebuah Kebolongan"
23:13 on February 10th, 2008
Hmm.. masuk akal juga..
Tapi kalo metodenya diganti bisa gak bos? misal
Kalo berani ngegame pake Windows.., uang jajan dipotong..
Tapi kalo ngegame pake Linux terus, anaknya dapet persenan dari royalti penjualan buku..
Adil?? He..he
*lari kenceng – kenceng..
5:27 on February 11th, 2008
#1
Sesuatu yang diawali dengan pemaksaan hasilnya tidak akan baik, bukan begitu?
10:12 on February 11th, 2008
hehehe, tergantung bos… klo ade saya sih udah pewe sama game di Linux, apalagi gCompris nya, tapi klo dah gede dikit dah sedikit milih – milih game, daripada pake komputer mending beli game console, gak ngeberatin hard disk, gak boros listrik
16:18 on February 16th, 2008
Keponakan saya nggak mau main gCompris. Maunya main Super Tux atau Frozen Bubble. Kalo udah main Super Tux, bisa berjam-jam gak mau berhenti.
Kesimpulannya: Gak mesti harus ada game bagus di Linux. Super Tux dan Frozen Bubble sudah cukup
Cuman keponakan saya tuh gak kenal Windows. Komputer saya cuman ada Linux aja
16:45 on February 16th, 2008
#4:
Coba saja besok kalo dia sudah sekolah dan main game di windows
23:36 on February 18th, 2008
Kalo game buat anak kecil mungkin tidak terlalu masalah, karena mereka tidak bisa berbuat banyak kalau didepannya hanya disodorin game Linux.
Lain halnya mereka yg dah pada kenal game online, biasanya mereka susah untuk diajak berpaling ke game online Linux. Kasusnya jadi gak beda banyak dng Windows – Linux. Kalo dah biasa pakai Windows, ogah pake Linux. Kalo dah biasa main game online Windows, ogah main game online Windows. Semua sebetulnya tinggal kebiasaan dan kemauan.
Omong2, memang di Linux ada game online … ???
Ada boss, jadi Linux ga bisa dibilang bolong 100% … nich infonya :
http://awali.org/forum/viewthread.php?forum_id=5&thread_id=291&pid=1355#post_1355
23:38 on February 18th, 2008
Kalo dah biasa main game online Windows, ogah main game online Windows
RALAT :
Kalo dah biasa main game online Windows, ogah main game online Linux
5:42 on February 19th, 2008
#6, #7
Itulah masalahnya. Saya tidak bilang di Linux tidak ada game sama sekali, tapi game yang menarik hampir tidak ada.
Dulu sebelum anak saya sekolah, saya bisa meminta mereka cuma main game di Linux. Tapi setelah sekolah, gimana lagi, lab komputer di sekolahnya pake Windows dan gamenya jauh lebih menarik daripada game Linux di rumah …
8:36 on February 19th, 2008
kalo saya menunggu CorelDraw dan Photosop bisa jalan di Linux… He..he..he..
Habis kalo pake Inkscape sama GIMP males belajar lagi (sugesti yang buruk
)
Kalo masalah ngegame mah, bisa diaturr…
7:17 on January 17th, 2010
kok aku malah lebih suka pake GIMP sama Inkscape, Correl & Photosop bikin aku tambah kriting. Semuanya hanya kebiasaan aja….
dan hati nurani….
11:49 on March 1st, 2008
klo untuk anak-anak mungkin game, tapi klo untuk saya pribadi mungkin karena linux masih belom 100% bisa auto plug-n-play, walaupun bisa klo di configure ulang misalnya.
)
tapi yah itu, kadang saya ga ada waktu, klo windows kan udah sangat aman untuk masalah itu jadi di manapun bisa colok-dan-maen (bahkan windows versi bajakan yg saya pakai juga udah sangat aman
tapi saya salut sama perkembangan linux. saya berharap suatu saat saya juga bisa memakai linux untuk sistem utama.
21:27 on May 12th, 2008
Saya coba kasih beberapa ide ya:
1. Berikan contoh kepada anak bapaknya kerja dan main sehari2 pakai Linux.
2. Ajarkan kepada anak bahwa membajak itu sama seperti dosa yang lain seperti berbohong, mencuri dan lain2, jadi kalau belum mampu beli yg berbayar pakai yg free. Kalau kayak gini harusnya tidak jadi masalah ngiler di sekolah, toh sama saja kalau teman2nya makan enak dan naik mobil mewah di sekolah kita bisa tahan, kan gak mungkin karena ngiler kita ngerampok.
3. Sekarang kalo tidak salah sudah mulai banyak game di Linux yang keren2, pinter2nya kita hunting aja, seperti CS yg mirip di Linux, online game dll.
4. dan lupa lagi..
silahkan ditambahkan ama yang lain
7:19 on January 17th, 2010
SEPAKAT…………
18:19 on July 10th, 2008
Quake 4, DOOM 3, ET:QW, game-game bagus yang sudah ada versi linuxnya, tinggal menunggu produsen game lain tux buat versi linuxnya…
cepat atau lambat…
21:28 on April 20th, 2009
sebenarnya bukan masalah kebohongan atau kebolongan
konsep dasar dari para pakar it untuk mensosialisasikan linux adalah
agar bangsa ini lebih terdidik menghargai usaha orang lain dan memiliki kemampuan untuk belajar dan bekerja keras.
mohon direnungkan lebih dalam lagi.
17:22 on October 5th, 2009
penulis nya goblok pake aja wine/cedega kan bisa nge-game dilinux
10:18 on October 22nd, 2009
Masalahnya orang indonesia “termasuk sedikit pada saya” g mau bersusah payah penginnya yang sudah siap pakai aja. Artinya dia g mau pinter karena selalu jadi konsumen. Padahal linux tu enak dan bebas diobrak-obrik semau kita beda dengan win penuh keterbatasan. Sebenarnya orang indonesia itu senang modifikasi sesuai selera pribadinya. Ayoo liat aja sepeda motor mereka dimodifin sesuka mereka sesuai pengetahuan mereka. Dan di linux boleh anda obrak-obrik semuanya bahkan diganti dengan nama dan merek anda sendiri tanpa takut dikatakan pencuri atau pembajak. N kalo laku bisa dijual n dapat fulus. Beda dengan win takut kena penjara. http://yahyakurniawan.net/wp-includes/images/smilies/doh.gif
13:48 on November 26th, 2009
Ya menyuguhkan Game Windows di hadapan anak2, sama aja mengajarkan mereka untuk tidak mengharagai hak kekayaan intelektual. Memang sebagian kalangan mengatakan Copy/Bajak untuk kepentingan atau pakai senderi tu boleh-boleh saja. Cuma pihak microsoft jelas tidak pernah membenarkan urusan ini. Pembajakan tetap pembajakan Silahkan di cek berapa harga game CS atau Stronghold. Jelas kalu memang di suguhi itu pasti Game itu tidak legal..
23:37 on December 12th, 2009
se7 boz, untung boz ganti L..kalo dak diganti ya BINUX bacanya