Produktif Dengan ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA)

Written by

in

Merdeka!

Bulan depan, bulan Agustus, kita bakal sering mendengar kata tersebut. Ya, bulan Agustus adalah bulan spesial bagi bangsa Indonesia karena kita merdeka pada bulan tersebut, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Angka-angka yang menyusun tanggal 17 Agustus 1945 tersebut, yaitu 17, 8 (angka bulan Agustus), dan 45 (dahulu penulisan angka tahun lazim ditulis tanpa awalan 19), menjadi angka istimewa dan karenanya menjadi angka yang sangat populer di Indonesia.

Angka 45 ternyata merupakan angka istimewa juga buat ASUS. Belum lama ini mereka meluncurkan sejumlah seri laptop terbaru yang dilengkapi dengan 45+ TOPS NPU, di antaranya adalah Zenbook, ProArt, Vivobook S, dan Vivobook Flip.

CPU vs GPU vs NPU

Nah, Oom yakin banyak di antara kalian yang bertanya-tanya, biasanya kalau peluncuran laptop baru itu kan yang disebut paling kenceng adalah prosesornya, misalnya Intel® Core™ Ultra 7 Processor 258V 32GB 2.2GHz, atau misalnya prosesor grafisnya Intel® Arc™ Graphics, lah ini kok bukan itu, tapi malah 45+ TOPS NPU? Apaan tuh?

Baik baik, OK. Akan Oom jelaskan pelan-pelan. Ambil buku catatannya lalu dicatat ya.

Kita tentu tahu bahwa prosesor adalah jantung komputasi sebuah laptop. Secara garis besar, prosesor itu terdiri dari dua komponen utama, yaitu CPU dan GPU. Namun belakangan ini, muncul lagi komponen baru, yaitu NPU, seiring dengan mulai populernya AI. Hmmm, jadi NPU ini pasti ada hubungannya dengan AI dong? Anda benar. Beginilah penjelasan tentang CPU, GPU, dan NPU.

CPU merupakan singkatan dari Central Processing Unit, “otak” yang bertanggung jawab mengeksekusi semua instruksi komputasi. CPU ini memang kerap diidentikkan dengan otak manusia. Manusia yang IQ-nya tinggi memiliki kemampuan analisis dan kalkulasi yang akurat, begitu pula dengan CPU yang canggih.

CPU modern tersusun dari core dan threads. Core adalah jumlah fisik “pemikir” yang dimiliki oleh CPU. Dalam bahasa yang lebih mudah, kalau sebuah CPU memiliki 4 core, maka CPU itu memiliki 4 buah otak atau pekerja.

Sedangkan threads adalah jumlah tugas yang dapat dikelola oleh masing-masing core (pekerja) pada saat yang sama.

Selain itu, dikenal juga istilah clock speed atau frekuensi, yang menunjukkan jumlah instruksi yang mampu dieksekusi oleh sebuah CPU.

Jadi kalau kita hendak memilih prosesor, secara umum pilihlah prosesor yang memiliki jumlah core dan threads makin banyak, serta frekuensi yang makin tinggi, karena memiliki potensi untuk mengangkat performa sistem secara keseluruhan a.k.a lebih kencang dibandingkan prosesor lain yang diproduksi pada zaman atau generasi yang sama.

GPU merupakan singkatan dari Graphics Processing Unit, merupakan sebuah sirkuit elektronik yang tugasnya adalah melakukan rendering grafis dan mengirimkannya ke monitor untuk ditampilkan.

GPU yang menjadi satu kesatuan (built in) dengan CPU disebut integrated GPU. Sebagian besar chip prosesor untuk laptop hadir dengan integrated GPU. Namun untuk laptop yang memiliki kebutuhan grafis khusus seperti laptop gaming atau laptop untuk desain grafis, hampir pasti akan dilengkapi dengan GPU yang terpisah dari CPU. Sistem GPU terpisah seperti ini disebut dengan discrete GPU.

Laptop gaming atau laptop untuk desain grafis membutuhkan kemampuan pengolahan grafis yang jauh lebih mumpuni sehingga dibutuhkan GPU yang terpisah. GPU yang terintegrasi dengan CPU jelas tak akan mampu menangani beban pengolahan grafis berat yang dibutuhkan oleh game maupun aplikasi desain grafis.

Chip GPU yang terpisah ini bahkan pada akhirnya berkembang tak sekadar menjadi pengolah grafis saja, tetapi juga sering dimanfaatkan untuk machine learning dan scientific computing berkat kemampuannya untuk melakukan banyak perhitungan secara serentak.

Mengapa Sekarang Ada NPU?

Sekarang tibalah kita pada penjelasan tentang NPU.

NPU merupakan singkatan dari Neural Processing Unit, merupakan komponen “bungsu” yang ada pada sebuah prosesor. Chipset yang dilengkapi dengan NPU baru mulai tersedia di pasaran sekitar 2-3 tahun terakhir, seiring mulai populernya penggunaan AI. Ini sekaligus menjawab pertanyaan pada judul subbab ini, bahwa NPU memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan akan pengolahan AI.

Sebenarnya, mengidentikkan CPU dengan otak manusia itu agak kurang tepat karena justru NPU-lah yang paling mirip dengan sistem otak dan syaraf manusia. Huruf N pada NPU yang merupakan kependekan dari neural sudah sangat menggambarkan hal tersebut.

NPU dioptimasi untuk menjalankan tugas-tugas AI neural network, deep learning, dan machine learning.

Nah, kalau dipikir-pikir, jadinya GPU dan NPU mirip dong? Ya memang mirip, sama-sama dirancang untuk dapat melakukan banyak kalkulasi secara bersamaan. Bedanya, kerja NPU lebih mirip operasi jaringan syaraf, sedangkan GPU bisa melakukan tugas yang lebih luas, seperti olah grafis dan pelatihan model AI. NPU juga mengkonsumsi daya yang jauh lebih rendah daripada GPU.

Untuk memudahkan pemahaman tentang GPU vs NPU, mungkin bisa diambil analogi begini: GPU adalah seorang dosen matematika dan NPU adalah murid SD atau SMP yang pandai matematika dan berhitung.

Jika seorang dosen matematika diminta mengerjakan perhitungan sederhana seperti penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, dan jumlah soalnya banyak, apakah dia bisa? Ya tentu saja bisa tapi betapa mubazirnya, lebih baik dia diminta untuk melakukan perhitungan matematis yang lebih rumit. Lagipula, karena sudah tidak terbiasa melakukan perhitungan sederhana dalam jumlah banyak, dia malahan butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya.

Bandingkan jika seorang siswa SD atau SMP diminta mengerjakan perhitungan sederhana, tentu dia akan jauh lebih cepat mengerjakannya.

Kemampuan NPU dalam melakukan perhitungan dinyatakan dalam satuan TOPS yang merupakan singkatan dari Tera Operations Per Second. Jika NPU dinyatakan dalam 1 TOPS berarti NPU tersebut dalam melakukan 1 triliun perhitungan per detik.

OK, sekarang sudah makin jelas ya soal CPU, GPU, dan NPU ini. Berdasarkan penjelasan di atas, sebuah laptop bakal kurang berdaya di bidang AI jika prosesornya tidak memiliki NPU. Kalaupun toh dilengkapi dengan NPU, tidak serta merta laptop tersebut layak disebut AI PC, paling-paling hanya akan disebut “AI PC capable”.

Kriteria AI PC

Sekarang pertanyaan satu juta dollarnya, mengapa harus ada AI PC? Apa bedanya dengan PC biasa? Bukankah PC biasa juga bisa menjalankan AI?

Sebuah PC biasa tentu bisa menjalankan AI, misalnya menjalankan Copilot, ChatGPT, Gemini, dan aneka aplikasi AI lainnya. Hanya saja, AI yang dijalankan ini dieksekusi di cloud, sehingga memiliki keterbatasan tertentu, misalnya soal kesinambungan pembelajaran dan adaptasi AI-nya.

Sebuah AI PC akan mengeksekusi aplikasi AI secara lokal, sehingga AI-nya akan dapat mempelajari pola penggunanya, beradaptasi dengan kebiasaan penggunanya, mengambil keputusan berdasarkan data dan pola-pola khas penggunanya.

Selain itu, tentunya eksekusi AI-nya juga akan jauh lebih cepat dan yang terpenting aman, karena datanya ada di komputer lokal.

Dengan AI PC, pengguna komputer akan dapat memanfaatkan AI dengan lebih efektif dan efisien.

Microsoft sebagai perusahaan yang produk sistem operasinya paling banyak dipakai oleh produsen laptop, menerapkan sebuah standar agar sebuah laptop layak dikategorikan sebagai AI PC, atau dalam hal ini Copilot+ PC, yaitu memiliki NPU dengan kemampuan perhitungan minimal 40 TOPS.

ASUS sebagai sebuah perusahaan laptop kelas dunia tak mau hanya sekadar memenuhi standar 40 TOPS tersebut. Mereka memberikan lebih, yaitu minimal 45 TOPS. Jadi akhirnya terkuak juga istimewanya angka 45 ini, hehe.

Kalau ada tanda plus (+) pada angka 45, itu menunjukkan bahwa angka 45 merupakan standar minimal. Beberapa produk laptop ASUS memiliki NPU dengan kemampuan kalkulasi di atas 45 TOPS.

ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA)

ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) merupakan salah satu laptop AI dengan performa NPU 45+ TOPS.

ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA)

ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) sangat cocok untuk menjalankan aplikasi-aplikasi modern yang sudah mendukung teknologi AI. ASUS Zenbook S14 (UX5406SA) sudah diperkuat oleh Intel® Core™ Ultra 7 Processor 258V 32GB 2.2GHz yang memiliki 8 core dan 8 thread. Prosesor tersebut dilengkapi dengan Intel® Arc™ Graphics serta chip AI berbasis Intel® AI Boost NPU dengan kecepatan hingga 47 TOPS.

Zenbook S14 OLED Adalah Laptop yang Ringan dan Ringkas

Adanya AI yang sangat membantu meningkatkan produktivitas kerja, serta NPU yang membuat kinerja prosesor makin efektif dan efisien, membuat konsep pengembangan laptop terkini makin bergeser ke arah mobilitas.

Ya memang sih, sejak dulu laptop dirancang untuk mobilitas, tapi dulu masih kudu berkompromi dengan banyak hal, misalnya bahan laptop yang harus kuat, padahal bahan yang kuat itu berat, atau baterai yang harus cukup memberi daya seharian, yang bikin laptop makin berat.

Perkembangan perangkat keras dan material yang pesat akhir-akhir ini membuat impian orang untuk dapat beraktivitas dengan mobilitas tinggi tanpa direpotkan oleh laptop yang besar dan berat.

ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) hadir dengan tampilan mewah dan elegan, sekaligus tipis dan ringan. Material utama laptop ini menggunakan material eksklusif Ceraluminum™ yang memungkinkan pembuatan body tipis dan ringan tetapi sangat kuat.

Pengembangan material ini saja dilakukan selama 4 tahun. Bayangkan.

Bahan Ceraluminum™ ini membuat Zenbook S14 OLED bisa hadir dengan ketebalan hanya 1,1 cm.

Zenbook S14 OLED Memiliki Baterai Tahan Lama

Desain body yang ringan dan ringkas saja tak cukup untuk mendukung mobilitas tinggi. Kalau baterainya boros, jelas mobilitas akan terganggu.

Untungnya, ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) menggunakan prosesor Intel® Core™ Ultra 7 Processor 258V yang sangat efisien sehingga konsumsi dayanya rendah.

Sudah begitu, kapasitas baterainya besar pula, yaitu 72Whrs. Berkat kemajuan teknologi material yang tadi sudah disinggung, meskipun baterainya berkapasitas besar tetapi tidak membuat laptop ini jadi berat.

Untuk membuktikan bahwa Zenbook S14 OLED memiliki baterai tahan lama, berikut adalah uji baterai menggunakan software benchmark UL Procyon Battery Test.

Melalui hasil benchmark tersebut terlihat bahwa ASUS Zenbook S14 OLED dapat bertahan hingga 18.15 jam saat digunakan untuk bekerja (membuka aplikasi office), sementara saat mode idle, laptop ini bisa bertahan hingga 23.25 jam.

Zenbook S14 OLED Memiliki Audio Visual Terbaik

Supaya betah saat bekerja, ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) hadir dengan teknologi layar dan audio canggih yang dirancang untuk memberikan pengalaman visual dan audio kelas premium.

Tak cuma layar biasa, Zenbook S14 OLED menggunakan layar sentuh (touchscreen) dengan teknologi ASUS Lumina OLED. Resolusi layarnya 3K alias 2880×1800 dan refresh rate 120Hz. Resolusi dan refresh rate tinggi tersebut memastikan detail gambar tajam dan jernih.

Bagi kamu yang bekerja di bidang desain grafis dan membutuhkan reproduksi warna yang akurat, kontras, dan kedalaman warna hitam yang optimal, bakal terbantu dengan color gamut 100% DCI-P3, sertifikasi Pantone® Validated, dan DisplayHDR™ True Black 500.

Pada sektor audio, ASUS menyematkan empat speaker yang tersertifikasi Harman Kardon dan didukung Dolby Atmos® pada Zenbook S14 OLED. Jadi, meski memiliki bodi yang ramping, ASUS berhasil mengoptimalkan sistem audio Zenbook S14 OLED agar mampu menghasilkan suara dengan kualitas premium, memberikan pengalaman audio yang imersif dan cocok untuk menikmati musik favorit.

Gabungkan layar dan audio premium tersebut, maka seolah-olah sebuah theater mini ada di hadapan kamu.

Zenbook S14 OLED Dengan Performa AI Terdepan

Nah ini dia gongnya. Sudah disebutkan sebelumnya jika ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) dipersenjatai dengan prosesor Intel® Core™ Ultra (Series 2) yang dilengkapi NPU hingga 47 TOPS. Spesifikasi ini memungkinkan laptop memproses aplikasi berbasis AI dengan lebih cepat dan efisien. Jadi jika AI adalah teman kerjamu sehari-hari, Zenbook S14 OLED bakal jadi tools yang sangat memanjakan kamu.

Tombol Copilot yang terintegrasi pada keyboard juga mempermudah akses ke asisten Windows AI, praktis dan efisien.

Mengikuti rancangan body-nya yang ringan dan ringkas, “jerohan” Zenbook S14 OLED dirancang menggunakan desain system-on-chip (SoC) sedemikian rupa sehingga mampu memangkas ukuran motherboard hingga 27% lebih kecil dibandingkan laptop konvensional.

Desain ini sekaligus meningkatkan efisiensi pendinginan serta stabilitas performa, sehingga laptop bakal tetap optimal meskipun menjalankan aplikasi berat.

Supaya tidak jomplang dengan prosesornya yang sangat kencang, Zenbook S14 OLED dilengkapi dengan RAM LPDDR5X hingga 32 GB dan penyimpanan SSD PCIe® 4.0 NVMe™ M.2 hingga 1 TB, memastikan kinerja mulus untuk aplikasi modern yang memanfaatkan potensi AI secara maksimal.

Berikut adalah hasil benchmark performa ASUS Zenbook S14 OLED:

Cinebench 2024 CPU Benchmark
CrytalDiskMark8 SSD Benchmark
3DMark Benchmark

Bisa Apa Dengan AI

Jika punya ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA), apa saja yang bisa kita lakukan dengan kemampuan AI-nya? Sangat banyak, imajinasi kita menjadi batasannya. Oom akan bahas beberapa di antaranya.

AI Generatif

Ketika istilah AI mulai populer akhir-akhir ini, sebenarnya yang populer tersebut adalah AI generatif, yaitu AI yang dimanfaatkan untuk menghasilkan (generate) sesuatu, entah itu gambar, musik, video, teks, bahkan mungkin juga kode pemrograman.

Teknologi kecerdasan buatan itu sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama. Contoh paling mudah, saat kita bermain game melawan komputer, karakter yang dimainkan komputer tersebut adalah sebuah kecerdasan buatan.

Kalau pembahasan kita fokuskan pada AI Generatif, maka Windows 11 sebagai sistem operasi bawaan ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA) memiliki aplikasi bernama Windows CoCreator Paint.

Sumber: Tom’s Hardware

Dengan aplikasi ini, kita bisa melakukan corat-coret sebuah sketsa, lalu memberikan prompt tertentu, maka Windows CoCreator Paint bisa menghasilkan gambar yang bagus berdasarkan sketsa tadi.

Belakangan mulai populer juga aplikasi untuk membuat musik dan video dengan AI.

AI Untuk Peningkatan Kualitas

Saat pembuatan konten, seringkali hasilnya tidak sempurna dan kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk memperbaikinya. AI bisa membantu meningkatkan kualitas konten yang kita buat.

Aplikasi Copilot+ Windows yang bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas adalah Windows Studio Effect.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh Windows Studio Effect antara lain adalah:

  • Background Effect: memudarkan (blur) latar belakang, berguna jika latar belakang foto atau video kualitasnya kurang baik. Daripada nampak tidak baik, dipudarkan saja.
  • Eye Contact: jika kita mengambil video selfie dan pandangan mata kita tidak tertuju ke kamera, fitur ini bisa membuat arah pandangan mata kita jadi nampak fokus ke kamera.
  • Automatic Framing: secara otomatis melakukan crop atau zoom supaya orang yang di-shooting tetap berada di dalam frame.
  • Portrait Light: memperbaiki kualitas pencahayaan.
  • Creative Filter: menambahkan filter-filter lucu ke dalam video.
  • Voice Focus: menghilangkan suara noise sehingga suara kita menjadi lebih jernih.

Percaya atau tidak, dengan memanfaatkan AI untuk peningkatan kualitas ini, kita juga bisa menghemat ruang simpan?

Ada aplikasi AI yang dikategorikan sebagai Image Upscaler, yaitu aplikasi AI yang bisa meningkatkan kualitas foto dengan cara meningkatkan resolusinya. Dengan memanfaatkan aplikasi semacam ini, kita cukup menyimpan foto dengan kualitas sedang atau bahkan rendah, sehingga menghemat ruang simpan. Nanti jika dibutuhkan untuk dicetak atau didistribusikan, barulah kualitasnya ditingkatkan dengan aplikasi image upscaler.

Contoh populer lain yang bisa diceritakan tentang AI untuk peningkatan kualitas ini adalah lagu The Beatles yang berjudul Now and Then. The Beatles merilis lagu ini pada tahun 2023 padahal sebagian lirik lagu tersebut dinyanyikan oleh John Lennon yang telah meninggal pada tahun 1980.

Kok bisa?

Jadi, sebuah sampel rekaman yang diambil oleh John Lennon ketika masih hidup, ditemukan oleh jandanya, Yoko Ono, dan diserahkan kepada Paul McCartney. Kita bisa bayangkan tentunya kualitas sampel rekaman tersebut sudah sedemikian buruk karena terlalu lama disimpan.

Dengan bantuan AI, sampel rekaman John Lennon tersebut bisa diambil vokalnya saja dan ditingkatkan kualitasnya. Setelah kualitas rekaman jadi bagus, barulah kemudian anggota The Beatles yang masih hidup, yaitu Paul McCartney dan Ringo Starr, merekam sebuah lagu yang diciptakan berdasarkan sampel rekaman tadi.

AI Sebagai Asisten Pribadi

Penggemar Marvel tentu mengenal Jarvis sebagai asisten pribadi Tony Stark a.k.a Iron Man. Kalau di ASUS, ada asisten pribadi bernama OMNI.

Sebagai AI PC produksi ASUS, sudah tentu Zenbook S14 OLED memiliki asisten pribadi OMNI ini.

Sebagai asisten, OMNI bisa melakukan manajemen sistem laptop Zenbook S14 OLED, misalnya menampilkan status sistem, menaikan atau menurunkan volume suara, hingga menerapkan efek visual tertentu.

OMNI juga memiliki kemampuan berinteraksi dengan pengguna laptop, misalnya dengan menampilkan mini game atau terlibat pembicaraan dengan pengguna.

Selain itu, OMNI juga bisa membantu meningkatkan produktivitas pekerjaan kita misalnya dengan merangkum sebuah dokumen panjang, melakukan transkrip audio menjadi teks, otomatisasi pekerjaan rutin, dan masih banyak lagi.

Spesifikasi ASUS Zenbook S14 OLED (UX5406SA)



Main Spec.
Zenbook S 14 OLED (UX5406SA)
CPUIntel® Core™ Ultra 7 Processor 258V 32GB 1.8 GHz (12MB Cache, up to 4.8 GHz, 8 cores, 8 Threads)
NPUIntel® AI Boost NPU up to 47 TOPs
Operating SystemWindows 11 Home
Memory32GB LPDDR5X
Storage1TB PCIe® 4.0 NVMe™ M.2 SSD
Display14″, 3K (2880 x 1800) OLED Touchscreen, 16:10, 120Hz, 500 nits, 100% DCI-P3, DisplayHDR™ True Black 500, Pantone® Validated, TÜV Rheinland-certified, stylus support
GraphicsIntel® Arc™ Graphics
Input/Output1x USB 3.2 Gen 2 Type-A (data speed up to 10Gbps), 2x Thunderbolt™ 4 with support for display / power delivery (data speed up to 40Gbps), 1x HDMI 2.1 TMDS, 1x 3.5mm Combo Audio Jack
ConnectivityWi-Fi 7(802.11be) (Tri-band)2*2 + Bluetooth® 5.4 Wireless Card
Camera1080P FHD IR Camera for Windows Hello
AudioSmart Amp Technology, harman/kardon certified built-in 4 speaker, Built-in array microphone, Dolby Atmos
Battery72WHrs, 2S2P, 4-cell Li-ion
Dimension31.03 x 21.47 x 1.19 ~ 1.29 cm
Weight1.2 Kg
ColorZumaia Gray, Scandinavian White
PriceRp27.999.000
Warranty2 Tahun Garansi Global dan 1 Tahun ASUS VIP Perfect Warranty
 

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog ASUS 45+ TOPS Advanced AI Laptop yang diadakan oleh Travelerien.

Follow me on social media:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *