Kota Yogya itu unik. Dan salah satu keunikannya adalah tersedianya berbagai kuliner yang unik. Unik, bukan? 
Nah, yang akan saya jadikan objek posting ini adalah brongkos. Brongkos adalah masakan khas Yogya yang mirip dengan rawon. Sama-sama gelap karena dimasak menggunakan kluwek. Bedanya adalah pada rasa. Kalau rawon itu cenderung gurih/asin, maka brongkos cenderung manis dan biasanya juga agak pedas.
Walaupun brongkos adalah masakan khas Yogya, namun ternyata relatif jarang warung atau restoran di Yogya yang memiliki menu brongkos.
Salah satu penjual brongkos yang menjadi langganan saya adalah brongkos di jalan Kranggan. Apa nama warung atau restorannya? Nah itulah uniknya. Penjual brongkos ini sama sekali tidak memiliki warung atau restoran. Dia cuma "menggelar" dagangannya di emperan sebuah rumah. Emperan yang sering digunakan adalah emperan rumah Jl. Kranggan no 42 (dealer mesin jahit Singer).

Ibu itu mulai standby di TKP sekitar pukul 06.00 – 06.30 pagi.
Herannya, walau cuma digelar seperti itu, brongkos kranggan ini laris luar biasa. Kadang jam 07.30 saja Anda sudah tidak kebagian apa-apa. Dan kalau lagi antre, antriannya bisa cukup panjang.
Pelanggan brongkos kranggan ini bukan cuma penduduk sekitar, tapi juga "atlet" lari/sepeda pagi, para pengantar sekolah (kebetulan sekitar 100 m dari TKP ada sekolah), dan para pelanggan lain.

Kebanyakan pembeli memang membeli brongkos tersebut untuk dibawa pulang. Tapi bisa juga kalau Anda ingin menikmatinya saat itu juga. Kalau mau makan di TKP, ibu penjual brongkos itu menyediakan pincuk (piring yang dibuat dari daun) dan sendok. Posisi makannya ya cuma duduk di emperan itu. Cuma penjual brongkos itu tidak menyediakan minuman. Anda harus bawa sendiri.

Anda ingin mencoba? Segeralah meluncur ke Jl. Kranggan. Tapi ingat pesan saya tadi, jangan datang kesiangan dan bawa minum sendiri.
Follow me on social media:
Leave a Reply