Tak terasa dua tahun berselang … sebuah bencana yang merenggut begitu banyak jiwa. 27 Mei 2006, gempa tektonik melanda Jogja dan sekitarnya. Dilihat dari skalanya, gempa itu “cuma” 5.9 SR, tapi entah mengapa efek yang ditimbulkan begitu dahsyat. Meluluhlantakkan semua yang tak mampu berdiri kokoh.
Saya sendiri saat itu masih tidur. Maklum, hari Sabtu kedua anak saya tidak harus masuk jam 07.00 pagi karena kegiatan di sekolah mereka hanya ekstra kurikuler, itupun tidak wajib. Istri saya sendiri juga tidak buru-buru bangun karena tidak ada kegiatan yang mendesak. Waktu itu kami berempat tidur di satu kamar yang sama.
Gemuruh gempa yang menggelegar itu membangunkan saya.
Walaupun belum pernah mengalami gempa besar sebelumnya, namun setidaknya saya telah beberapa kali merasakan gempa-gempa kecil. Dan orang tua saya selalu mengajarkan bahwa bila ada gempa, segeralah lari keluar rumah. Hal itu akhirnya menjadi semacam tertanam di bawah sadar saya, bahwa bila gempa, segera lari keluar.
Dan itu pulalah yang nyaris terjadi. Begitu terbangun, alam bawah sadar saya segera “menyuruh” saya keluar. Saya membuka pintu kamar dan bersiap lari. Tapi rupanya ada yang lebih besar daripada sekedar alam bawah sadar, yaitu cinta.
Ya, rasa cinta saya pada istri dan anak-anak seperti mengikat kaki saya dan menarik tubuh saya balik ke kamar. Saya segera berteriak menyuruh istri saya keluar (tak lupa menyambar kacamata saya juga
) lalu menggendong anak sulung kami. Istri saya juga dengan sigap menggendong anak bungsu kami. Kami turun dan lari keluar.
Namun rupanya semua terlambat (dalam arti positif
) karena gempa telah berhenti saat kami tiba di luar rumah. Syukurlah rumah kami tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya sedikit retak dan puluhan genteng yang jatuh pecah. Satu hal lagi yang sangat saya syukuri adalah masih tidurnya anak-anak saya waktu itu, sehingga mereka sama sekali tidak memiliki trauma terhadap gempa.
Kini nampaknya Jogja (khususnya Bantul) telah bangkit kembali. Mereka telah melupakan semua kegetiran yang terjadi sebagai dampak gempa dan selalu siap berjuang menyongsong masa depan. Harapan itu selalu ada. Namun ada satu hal yang harus selalu direnungkan, yaitu pesan dari Sang Pencipta di balik ini semua.
Sudahkah Anda memaknainya?
Leave a Reply