Berita tentang akan diulanginya Pilkada Jawa Timur di beberapa daerah pemilihan membuat saya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, pemilihan ulang tersebut akan memakan setidaknya 18 Milyar Rupiah (angka 18 diikuti 9 buah nol! Betapa banyak nolnya
).
Okey, saya akui saya memang bukan pengamat politik dan hukum, jadi seandainya memang ada kecurangan-kecurangan tertentu dalam proses pemilihan tersebut yang membuatnya cacat hukum, saya juga tidak mengerti. Jadi bukan hal itu pulalah yang akan saya soroti.
Saya mengandaikan kalau saja pihak yang kalah legowo dan menerima kekalahannya secara jantan, maka proses pemilihan ulang tidak perlu diadakan dan uang rakyat sejumlah 18 Milyar tidak perlu dihambur-hamburkan. Kalau seandainya hasil pemilihan ulang ternyata sama saja, bukankah itu mubazir? Kalau ternyata hasilnya justru memenangkan pihak yang kalah dan pihak yang sebelumnya memang kemudian menuntut ke pengadilan, buntutnya malah makin panjang lagi, bukan?
Ah, sebagian besar dari kita memang tidak siap untuk kalah.
Mungkin itu akibat didikan masa kecil kita yang kemudian terekam di alam bawah sadar kita. Coba ingat-ingat kembali, atau barangkali perhatikan sekeliling Anda, kalau anak kecil jatuh karena tersandung batu misalnya, maka orang tua atau orang yang mengasuh anak kecil tersebut akan dengan cepat menyalahkan batu tadi. "Wah, batunya nakal ya, bikin adik jatuh". Padahal apa salah batu itu? Dari tadi dia diam saja, bukan?
Hal tersebut akan membuat kita akan selalu menyalahkan sesuatu yang ada di luar kita, entah itu keadaan, orang lain, atau malah kadang-kadang Tuhan. Kita inilah yang paling benar.
Ah, entahlah, saya makin tidak mengerti akan carut marutnya negeri ini. Seperti kata U2 di salah satu hitsnya: But I still haven’t found what I’m looking for, yang kebetulan saat ini sedang menyeruak keluar dari audio system saya.
Follow me on social media:
Leave a Reply