Kalimat yang jadi judul posting ini sedang menghangat di Yogyakarta. Ndak perlu dijelaskan panjang lebar, semua juga tahu kalau ini adalah akibat dari kisruhnya pembahasan RUU Keistimewaan Yogyakarta. Tambah lagi pernyataan Presiden SBY soal Monarki yang bagai menuang minyak tanah ke atas bara.
Saya tidak akan membahas pro kontra RUU Keistimewaan itu maupun kata-kata Monarki yang meluncur dari mulut seorang Presiden. Teman saya Herman Saksono lebih pantas. Saya cuma mau membayangkan, andaikata misalnya umpama Yogyakarta kemudian memisahkan diri dari Indonesia gara-gara polemik tersebut, apa yang bakal terjadi?
Mungkin inilah kira² yang bakal terjadi.
) Bagaimana tidak, keberangkatan pesawat saya ditunda sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, mengingat terjadi hujan abu di Jogja.