Stadion Ernst Happel di Wina, Austria sudah sepi. Lampu-lampunya telah dipadamkan, kursi-kursi kosong, gemuruh atmosfer pertandingan telah lenyap. Barangkali saat ini yang ada di sana hanyalah cleaning service, para pemelihara rumput stadion, dan petugas keamanan. Suasana yang kontras dengan apa yang terjadi semalam (dini hari WIB).
Saat itu berlangsung pertandingan perempat final terakhir antara Spanyol melawan Italia. Walaupun jalannya pertandingan sangat jauh dari kata menarik, namun gemuruh semangat di kubu kedua pendukung sangat terasa memenuhi stadion.
Dan ketika sepakan penalti Cesc Fabregas tidak mampu dihalau oleh Gianluigi Buffon, kembali suasana kontras nampak.
Para pemain Spanyol beserta seluruh pendukung hanyut dalam kegembiraan. “Kutukan” itu telah berakhir, karena sebelumnya mereka tidak mampu mengalahkan Italia dan selalu kalah bila adu tos-tosan penalti.
Di sudut yang lain, para punggawa Italia tertunduk lesu. Mereka harus merasakan pil pahit yang sama dengan yang ditelan Perancis dua tahun lalu di final Piala Dunia 2006.
Apa boleh buat, semua sudah berlalu. Italia harus mengepak koper, pulang ke negaranya. Spanyol pun mengepak koper juga, tapi bukan untuk pulang, melainkan untuk bersiap ke Stadion St. Jakob-Park, Basel, menantang Rusia untuk berebut tiket ke final.
Hanya itu sajakah? Tentu tidak. Di akhir sebuah pertandingan, tentu ada banyak cerita tersisa. Dua di antaranya adalah cerita tentang Iker Casillas dan Giorgio Chiellini.
Iker Casillas
Siapa yang tidak senang bertemu dengan idolanya? Apalagi bisa bertanding dalam sebuah ajang sebesar Piala Eropa. Itulah yang terjadi pada Casillas. Dia memang dikenal sangat mengidolai Buffon. Lihat saja gaya berpakaiannya.
Kebetulan, keduanya sama-sama mulai berprestasi di usia sangat muda. Suatu hal yang langka untuk seorang kiper. Keduanya juga sama-sama menjadi andalan di klub masing-masing. Tapi di ajang internasional, Casillas masih kalah jam terbang dan kilau kebintangannya.
Jadi bisa dibayangkan kegembiraan yang dirasakan oleh Casillas ketika akhirnya dia bisa memblok dua tendangan penalti lawan, sementara Buffon sang idola hanya satu, dan itu berarti dia membawa timnya menang.
Ingat Casillas, masih ada dua pertandingan menunggumu menuju tangga juara. Janganlah terlalu larut dalam euforia mengalahkan Juara Dunia dan sang idola.
Giorgio Chiellini
Italia boleh kalah. Italia boleh mandul. Tapi merekapun bisa memandulkan lawan. Dan itu berkat penampilan “the rising star” Chiellini.
Saat Chiellini tidak bermain, Italia tunggang langgang dihalau badai total fotball Belanda. Publik Italia sangat merindukan kehadiran Fabio Cannavaro yang ironisnya justru dicederai oleh Chiellini. Namun Chiellini membayar itu semua dengan permainan gemilang.
Saat Chiellini bermain, Italia hanya kebobolan satu gol, itupun hadiah dari Zambrotta yang terlalu lemah memberikan bola ke Buffon sehingga berhasil diserobot Mutu. Komentator pertandingan itupun bagai kehabisan kata untuk memuji penampilan ciamik Chiellini. “The outstanding Chiellini …” itu salah satu yang sempat dilontarkannya.
Masa depan benteng kokoh Catenaccio bakal ada di pundakmu, Chiellini.
Sebenarnya saya masih punya satu cerita tentang Alex Del Piero, tapi besok saja ya
, ini udah terlalu panjang.
Leave a Reply