Catatan Usil Yahya Kurniawan

Seputar KitaCategory Archives

Pada Siapa Ku Harus Mengadu?

Beberapa hari belakangan ini blogosphere Indonesia menghangat. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah kasus Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang ditahan karena keluhannya terhadap layanan Rumah Sakit Omni dianggap mencemarkan nama baik RS tersebut.

Bukan wewenang saya untuk melakukan judgement siapa yang benar maupun yang salah dalam peristiwa itu, namun kasus Prita ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam relasi antara produsen (baik barang maupun jasa) dengan konsumen.

Produsen barang maupun pemberi jasa, termasuk rentetannya seperti supplier dan toko, nampaknya memang di atas angin. Contoh mudah saja, di setiap nota penjualan, hampir selalu tercantum “Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan”.

Di sisi sebaliknya, tatkala konsumen merasa dirugikan, nampaknya seperti sudah tidak ada harapan lagi. Pada siapa ku harus mengadu? (unsure)

Continue reading »

Spanduk … oh Spanduk

Gambar di atas adalah sebuah spanduk yang terpasang di salah satu perempatan Ring Road barat, Yogyakarta.

Saya jadi bertanya-tanya siapa sih yang bikin spanduk itu? Apa sebenarnya maksud kalimat “Saudara belum menerima SPPT PBB 200″?

Itu kalimat tanya, kalimat perintah, pemberitahuan, atau apa sih sebenarnya? (annoyed)

Bagaimana menurut Anda?

Dilarang Pake Sendal

Sudah jamak rasanya kalau ada pengumuman di sebuah kampus “Dilarang menggunakan sendal dan kaos oblong di area kampus”. Ada juga yang sedikit memberi nuansa humor dengan menuliskan “Mahasiswi dilarang memakai baju adiknya”. (rofl)

Suatu ketika, saya mengajak anak saya yang saat itu masih duduk di TK Besar menjemput mamanya di kampus. Sambil menunggu istri saya keluar, saya dan anak saya ngobrol di dalam mobil. Banyak pohon besar di areal parkir kampus itu, jadi hawanya cukup sejuk sehingga duduk di mobilpun tidak terasa gerah.

Karena saat itu anak saya sudah mulai lancar membaca, maka dengan bersemangat setiap benda yang ada tulisannya dia baca. Termasuk pengumuman dilarang menggunakan sendal itu tadi.

Karena bosan, akhirnya anak saya mengajak untuk masuk. Tapi sebelum masuk dia bilang, “Pa, sendalnya aku copot dulu ya”. Saya agak keheranan, “Kenapa?”

Continue reading »

Siap Menang Siap Kalah

Berita tentang akan diulanginya Pilkada Jawa Timur di beberapa daerah pemilihan membuat saya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, pemilihan ulang tersebut akan memakan setidaknya 18 Milyar Rupiah (angka 18 diikuti 9 buah nol! Betapa banyak nolnya :mrgreen: ).

Okey, saya akui saya memang bukan pengamat politik dan hukum, jadi seandainya memang ada kecurangan-kecurangan tertentu dalam proses pemilihan tersebut yang membuatnya cacat hukum, saya juga tidak mengerti. Jadi bukan hal itu pulalah yang akan saya soroti.

Continue reading »

Mamih Bohong

Lokasi: Sebuah Taman Kanak-Kanak.

Waktu: pagi hari, sebelum masuk sekolah.

***

Anak TK: Mamih, aku ndak mau sekolah. Tatut.

Mamih: Kamu harus mau sekolah, biar pinter.

Anak TK: Tapi mamih tungguin ya …

Mamih: Iya … ya … mamih tunggu kamu di luar.

Anak TK: Benel lho mam.

***

Bel berdering, anak-anak masuk ke dalam kelas. Si mamih memandangi anak hingga masuk kelas, demikian pula si anak yang terus memandangi mamihnya hingga dia masuk kelas. Tidak berapa lama kemudian si mamih pergi meninggalkan sekolah. Si mamih baru datang kembali menjelang si anak pulang.

Continue reading »

Pembulatan Uang Kembalian

Saat membayar belanjaan di kasir sebuah supermarket, saya ditanya oleh petugas "Bersediakah Bapak membulatkan nilai belanjaan Bapak? Selisihnya akan disumbangkan untuk PIN (Program Imunisasi Nasional)". Tanpa pikir panjang saya jawab ya.

Tapi setelah itu saya jadi berpikir bagaimana kalau saya tidak bersedia?

Misalnya nilai belanjaan saya adalah Rp 104.980,- dan saya membayar dengan uang 105.000,-. Kalau saya bersedia dibulatkan, ya sudah, selesai. Tapi kalau tidak bersedia bagaimana? Diberi kembalian Rp 20,-? Atau disuruh nelpooooooooooooonnnn ….?

Pada kenyataannya kembalian Rp 20,- itu toh tetap tidak diberikan, bukan? Mana ada uang pecahan Rp 5,- atau Rp 10,- sekarang ini. Masih mending kalau diberi permen. Tapi jelas tidak mungkin, harga permen pasti jauh di atas Rp 20,-.

Jadi untuk kasus-kasus nilai belanjaan tertentu, bersedia dibulatkan atau tidak, uang kembalian toh tetap tidak diterima. Saat itu kebetulan sedang ada program untuk menyumbangkan selisih pembulatan tersebut ke PIN, lha kalau pas tidak ada program apa-apa, ke mana larinya uang itu?

Saya jadi berpikir, seharusnya program seperti itu terus menerus diadakan. Kalau kebetulan pas tidak berbarengan dengan program lain (PIN dalam contoh kasus di atas), khan bisa saja selisih pembulatan itu disumbangkan ke Panti Asuhan atau dompet bencana alam.

Bagaimana menurut Anda?

Buku adalah Jendela Dunia

Entah dari mana asal kata-kata bijak itu, tapi yang jelas kata-kata itu sudah turun-temurun kita dengar. Memang benar, dengan membaca kita bisa memperoleh pengetahuan yang berasal dari mana saja dan kita bisa tahu keadaan atau peristiwa di mana saja. Jadi tepat bila buku adalah jendela dunia.

Buku juga merupakan sumber harta yang tak ternilai harganya. Uang bisa habis, harta milik bisa lenyap, tapi pengetahuan tidak bisa dicuri.

Karena itu tidak salah bila para blogger mengadakan suatu kegiatan sosial dengan membagikan buku ke masyarakat. Kegiatan tersebut diberi tajuk Gerakan 1000 Buku.

Untuk daerah Yogyakarta dan sekitarnya, bentuk kegiatan ini tidak terlalu muluk-muluk sebenarnya. Para Blogger khususnya yang tergabung di CahAndong akan menyumbangkan buku sebagai stok awal suatu perpustakaan dan diharapkan nantinya masyarakat sekitar perpustakaan itulah yang akan melanjutkan pengelolaannya.

Anda berminat untuk mengetahui informasi lebih lanjut dan bahkan berpartisipasi? Silakan kontak CahAndong melalui halaman kontak ini atau langsung kontak salah satu crew CahAndong yang Anda kenal.

Bila Anda berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, silakan klik gambar logo gerakan seribu buku di atas atau klik link ini juga boleh.